Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Sejarah

Dari Pasar Tikar ke Surau Wonoyoso

Tim Redaksi by Tim Redaksi
September 15, 2026
in Sejarah, Tokoh
0
Dari Pasar Tikar ke Surau Wonoyoso
0
SHARES
131
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sejarah Islam di pedesaan Jawa jarang ditulis di atas kertas istana. Ia lebih sering tersimpan dalam ingatan anak-cucu, dalam nama sebuah dukuh, dalam kebiasaan sebuah kampung yang perlahan berubah karena kedatangan seorang musafir yang membawa ilmu. Kisah Mbah Hasan Mahmud bin Saijan adalah salah satu dari sekian banyak kisah semacam itu — kisah tentang bagaimana cahaya fikih sampai ke sebuah kampung di Reban, Batang, lewat jalan yang sangat sederhana: pasar.

Berangkat dari Talun Ombo

Mbah Hasan Mahmud lahir di Talun Ombo, Kecamatan Sapuran, Wonosobo. Beliau menimba ilmu kepada Syaikh Hasan Busyro bin Abdul Hamid dari Karang Sambo, seorang guru yang kelak justru menjadi besannya sendiri — ikatan guru dan murid yang berubah menjadi ikatan keluarga, pola yang lazim dalam tradisi pesantren Jawa: ilmu diwariskan, dan nasab pun dijalin untuk menjaga keberlangsungannya.

Namun, seperti kebanyakan orang alim di kampung, ilmu saja tidak mengenyangkan keluarga. Mbah Mahmud berdagang tikar berkualitas, menjajakannya ke Pasar Ngadirejo, Temanggung. Di sanalah, di antara tumpukan tikar dan hiruk-pikuk pasar, beliau dipertemukan dengan Mbah Qonawi bin Karta, saudagar sapi asal Wonoyoso, Reban.

Ilmu yang Ditemukan di Pasar

Ada nasihat yang sering diulang di kalangan pesantren: dakwah tidak selalu menunggu mimbar. Mbah Qonawi, yang tiap hari berjual-beli sapi, ternyata jeli menangkap kealiman Mbah Mahmud. Ia pun mengajaknya berdakwah di kampungnya sendiri, Wonoyoso — kampung yang saat itu masyarakatnya masih sangat awam terhadap agama, sampai-sampai cindil, laron, dan gendon dimakan begitu saja tanpa ada yang mengajarkan mana yang halal dan mana yang haram.

Bagi kebanyakan orang, ajakan semacam itu bisa jadi terasa berat: pindah dari kampung sendiri, meninggalkan kenyamanan, untuk membina masyarakat yang bahkan belum mengenal dasar-dasar syariat. Namun, Mbah Mahmud menyambutnya dengan lapang dada. Beliau mengingat para Ulul Azmi — gelar khusus bagi rasul-rasul yang diberi ketabahan luar biasa dalam berdakwah — dan berpegang pada firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 110, yang pada intinya menegaskan bahwa umat terbaik adalah umat yang aktif mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah.

Ayat itu menjadi pijakannya: keutamaan sebuah umat diukur bukan dari seberapa nyaman hidupnya, melainkan dari seberapa berani ia menyuarakan kebenaran, sekalipun harus berpindah kampung dan memulai dari nol.

Kitab Tarajumah sebagai Jalan Fikih

Yang menarik dari kisah ini adalah instrumen dakwah yang dipakai Mbah Mahmud: kitab-kitab karya KH. Ahmad Rifa’i. Batang bukan kebetulan menjadi panggung kisah ini — dari kabupaten inilah, dari kawasan Kalisalak, Limpung, gerakan Rifa’iyah lahir dan berkembang sejak pertengahan abad ke-19. Kiai Ahmad Rifa’i menuliskan puluhan kitab fikih dalam aksara pegon berbahasa Jawa, agar ilmu agama bisa langsung diakses oleh masyarakat desa, tanpa harus melalui jalur penghulu yang saat itu diangkat dan diawasi pemerintah kolonial. Menuliskan agama dalam bahasa yang dipahami rakyat kecil adalah bentuk perlawanan yang sunyi namun berjangka panjang — dan kitab-kitab itulah yang terus berpindah dari satu majelis ke majelis lain, salah satunya sampai ke tangan Mbah Mahmud yang menuntunkannya di Wonoyoso.

Beliau mengajar dengan sabar, membaca lalu menjelaskan makna kitab-kitab itu satu per satu, hingga murid-murid berdatangan dari desa-desa sekitar. Bukan proses instan — istiqomahnya berbuah pelan-pelan: masyarakat mulai bisa mendirikan salat dengan tertib menurut fikih, hingga akhirnya kampung Wonoyoso mampu mendirikan salat Jumat, tanda sebuah komunitas Muslim yang utuh telah terbentuk di sana.

Baca Juga: Mbah Kyai Mangun Harjo: Jejak Karamah dan Perjuangan di Kebuntaman

Estafet ke Tambakboyo

Keberhasilan itu menjadi bekal untuk langkah berikutnya. Murid-murid dan tokoh masyarakat Desa Tambakboyo meminta beliau berdakwah di sana, bahkan menghadiahi tempat tinggal dan ladang sebagai penopang keluarga. Mbah Mahmud terus istiqomah hingga akhir hayatnya, wafat pada hari Rabu, 13 Rabiuts Tsani 1345 H, bertepatan 21 Oktober 1926.

Perjuangannya tidak berhenti di situ. Putrinya, Siti Aenah, menikah dengan salah satu muridnya sendiri, Tarlani atau Mbah Sitar, asal Kranggongan, Limpung — kembali dekat ke akar tanah kelahiran gerakan Rifa’iyah. Di tangan menantunya inilah dakwah di Tambakboyo diteruskan, sampai akhirnya salat Jumat pun bisa didirikan di sana.

Khaulil Khaul Ke-99 Syekh Hasan Mahmud Tambakboyo

Pelajaran yang Bisa Dipetik

Kisah Mbah Hasan Mahmud mengajarkan sesuatu yang sederhana namun tidak mudah dilupakan: dakwah sering kali tidak dimulai dari panggung besar, melainkan dari meja dagang, dari obrolan di pasar, dari kesediaan seseorang untuk dikenal dan diajak berbuat baik. Ilmu yang beliau bawa bukan miliknya sendiri — ia merupakan estafet dari sang guru, lalu diteruskan lagi oleh sang menantu. Sebuah rantai sanad yang tidak pernah benar-benar putus, selama ada yang bersedia menyambungnya.

Semoga Allah menempatkan beliau bersama para shalihin dan orang-orang yang dilimpahi nikmat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.


Penulis: M. Ali Rodli
Edtitor: Yusril Mahendra

Tags: BatangHasan Mahmud bin SaijanKH. Ahmad RifaiMbah Hasan MahmudRifaiyahRifaiyah BatangSejarah Rifa’iyah
Previous Post

Dhaman dan Kafalah: Menjaga Amanah dalam Tanggungan

Next Post

Menyamakan Istri dengan Ibu, Apakah Jatuh Talak?

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Yusril Mahendra, Warga Sipil.

Next Post
Menyamakan Istri dengan Ibu, Apakah Jatuh Talak?

Menyamakan Istri dengan Ibu, Apakah Jatuh Talak?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.