RIFAIYAH, BATANG – Upaya pelestarian manuskrip Tarajumah karya KH. Ahmad Rifa’i terus diperkuat melalui kegiatan Workshop Preservasi dan Digitalisasi Manuskrip Tarajumah yang digelar di Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Minggu (6/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan literasi arsip dan penyelamatan warisan intelektual Islam Nusantara.
Workshop yang mengusung tema “Digital Preservation of KH Ahmad Rifa’i’s Tarajumah Manuscripts: Empowering Rifa’iyah through Archival Literacy in Batang, Central Java” tersebut menghadirkan sejumlah akademisi, praktisi konservasi, serta tim digitalisasi manuskrip dari DREAMSEA.
Salah satu pemateri, Fadli Husnurrahman dari DREAMSEA-PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menjelaskan tentang pentingnya digitalisasi manuskrip sebagai langkah strategis untuk menyelamatkan kandungan pengetahuan yang tersimpan dalam naskah kuno. Menurutnya, banyak manuskrip di Asia Tenggara saat ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari faktor usia, kondisi iklim tropis, kelembapan tinggi, hingga bencana alam.
Fadli menjelaskan bahwa DREAMSEA (Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia) merupakan program internasional yang berfokus pada dokumentasi dan digitalisasi manuskrip-manuskrip yang terancam rusak maupun hilang di kawasan Asia Tenggara. Program tersebut tidak hanya bertujuan menyelamatkan fisik naskah, tetapi juga menjaga keberlanjutan akses terhadap isi dan nilai pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
“DREAMSEA bekerja untuk melestarikan keberagaman budaya melalui perlindungan dan digitalisasi manuskrip Asia Tenggara yang terancam akibat degradasi alam maupun faktor sosial,” terang Fadli saat memaparkan materi digitalisasi dan pengenalan program DREAMSEA.
Dalam paparannya, ia juga mengungkapkan bahwa sejak 2018 hingga 2026, DREAMSEA telah melaksanakan berbagai misi digitalisasi manuskrip di sejumlah negara Asia Tenggara. Di Kuala Lumpur, Malaysia, misalnya, lebih dari 300 manuskrip dengan total lebih dari 13 ribu gambar berhasil didigitalisasi. Program serupa juga dilakukan di Luang Prabang, Laos, dan Aceh, Indonesia, yang menargetkan penyelamatan puluhan ribu halaman manuskrip bersejarah.
Selain memperkenalkan program DREAMSEA, peserta workshop mendapatkan pemahaman mengenai tahapan digitalisasi manuskrip yang sesuai standar internasional. Mulai dari identifikasi naskah, pencatatan metadata, proses pemotretan, hingga penyimpanan dan pengamanan data digital.
Fadli menjelaskan bahwa dalam setiap misi lapangan, DREAMSEA melibatkan tim yang terdiri dari ahli akademik, asisten akademik, fotografer, dan asisten fotografer. Setiap personel memiliki tugas khusus untuk memastikan proses digitalisasi berjalan akurat tanpa merusak kondisi fisik manuskrip yang umumnya sudah rapuh.
Untuk mendukung kualitas hasil digitalisasi, DREAMSEA menggunakan sejumlah peralatan profesional, di antaranya kamera Canon EOS R6 Mark III, lensa makro Canon RF 35mm, laptop pengolah data, copy stand, tripod, sistem pencahayaan studio, hingga perangkat stabilizer listrik guna menjaga kestabilan proses dokumentasi digital.
Menurut Fadli, pelestarian manuskrip tidak berhenti pada proses digitalisasi. DREAMSEA juga memberikan dukungan berupa penyediaan kotak bebas asam dan lemari penyimpanan manuskrip melalui kerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk membantu menjaga ketahanan fisik naskah dalam jangka panjang.
Melalui workshop ini, manuskrip Tarajumah karya KH Ahmad Rifa’i diharapkan semakin dikenal sebagai sumber penting sejarah, pendidikan, dakwah, dan perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Digitalisasi menjadi langkah nyata agar warisan intelektual tersebut tetap lestari dan dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Baca Juga: Manuskrip Tarajumah Akan Dilestarikan melalui Workshop Preservasi dan Digitalisasi
Penulis: Samsul Rozikin
Editor: Yusril Mahendra


