Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap nilai-nilai persatuan, keadilan, kemanusiaan, dan kehidupan beragama yang harmonis. Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan juga titik temu yang memungkinkan berbagai kelompok masyarakat hidup berdampingan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam tradisi dakwah Rifa’iyah, nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan sering kali disampaikan melalui syi’ir. Selain menjadi media pendidikan, syi’ir juga menjadi sarana menanamkan kecintaan kepada agama sekaligus kepada tanah air. Salah satu syi’ir yang berkembang di kalangan Rifa’iyah memuat pesan tentang pentingnya mengamalkan Islam, menjaga kehidupan berbangsa, dan menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
Berikut syi’ir tersebut sebagaimana diwariskan dan dilantunkan di lingkungan masyarakat Rifa’iyah:
ini syi’ir yang akan datang # boleh didengar lainnya Islam
siapa ingin masuk Islam # syahadatlah dengan Dawam
dan harus berpancasila # sebab itu dasar negara
Indonesia dapat sentosa # jika beragam dan berpancasila
mari mari bersama-sama # berpancasila yang utama
untuk hidup di Indonesia # supaya selamat agamanya
Siapa tak berpancasila # itu orang orde lama
Harus disikat semuanya # supaya tersiar agamanya
Berpancasila secara sehat # juga makmur dalam akhirat
Orde lama supaya hilang # laporkan kepada yang berkewajiban
Supaya jangan berani menghalang # Kemajuan agama Islam
Jika Islam diamalkan # Indonesia makmur dan aman
Agama Islam perintah tuhan # mari bersama mengamalkan
Qur’an hadis ijma’ qiyas # untuk ganyang orde lawas
Orang Islam harus tegas # orde lawas tentu jablas
Orde baru terus maju # orde lama jadi abu
Agama Islam mari diaku # bersama-sama supaya baku
Amalkan tarajumah Rifa’i # tak berbeda dan lebih mudah
Bagi orang yang beribadah # menyembah kepada Allah
Jangan mengganggu dan menghalang # tarajumah yang lebih terang
Tarajumah perintahnya Tuhan # dan diakui di pemerintahan
Siapa yang akan mengganggu # tarajumah yang lebih jitu
Perintah akan gestapu # malaikat yang akan belenggu
Tarajumah Rifa’i # itu tuntunan ahlussunah
Juga atau ahli jama’ah # nomor satu makhluknya Allah
Juga tarajumah diperkuat # dan diamalkan yang tepat
Didunia tentu selamat # apalagi di alam akhirat.
Membaca Syi’ir dalam Konteks Zamannya
Sebagai karya dakwah yang lahir pada masa tertentu, syi’ir ini perlu dipahami dalam konteks sosial dan politik ketika syi’ir tersebut disusun. Beberapa istilah seperti orde lama, orde baru, mencerminkan situasi sejarah yang berkembang pada masa itu. Karena itu, pembaca masa kini perlu menangkap pesan pokoknya, bukan sekadar memahami teks secara harfiah.
Pesan utama yang dapat diambil adalah ajakan untuk:
- Mengamalkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh.
- Menjaga ketertiban dan persatuan bangsa.
- Menghormati dasar negara Pancasila.
- Mengembangkan dakwah melalui pendidikan dan pengajaran agama.
- Mengamalkan ajaran Tarajumah KH. Ahmad Rifa’i sebagai sarana memahami syariat.
Pancasila dan Islam: Bukan untuk Dipertentangkan
Syi’ir tersebut menunjukkan pandangan bahwa kehidupan beragama dan kehidupan bernegara dapat berjalan berdampingan. Kalimat “dan harus berpancasila sebab itu dasar negara” menunjukkan penerimaan terhadap Pancasila sebagai fondasi kehidupan bersama dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Bagi umat Islam Indonesia, pengamalan agama tidak bertentangan dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Justru nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial memiliki titik temu yang kuat dengan ajaran Islam.
Dalam semangat Hari Lahir Pancasila, pesan ini menjadi semakin relevan. Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas moral, keagamaan, dan kebersamaan seluruh warga negara.
Tarajumah KH. Ahmad Rifa’i sebagai Media Dakwah
Bagian akhir syi’ir memberikan penekanan pada pentingnya kitab Tarajumah karya KH. Ahmad Rifa’i. Tradisi tarajumah merupakan salah satu warisan dakwah yang bertujuan memudahkan masyarakat memahami ajaran Islam dalam bahasa yang dekat dengan kehidupan mereka.
Melalui pendekatan ini, dakwah tidak hanya menjadi kegiatan penyampaian ilmu, tetapi juga upaya membangun masyarakat yang berakhlak, memahami agamanya, serta mampu hidup harmonis di tengah keberagaman bangsa.
Meneguhkan Semangat Kebangsaan dan Keagamaan
Peringatan Hari Lahir Pancasila mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas kesepakatan bersama. Keberagaman suku, budaya, dan agama tidak menjadi penghalang, melainkan kekuatan yang menyatukan bangsa.
Syi’ir ini menjadi salah satu jejak sejarah bagaimana para pendakwah berupaya menghubungkan nilai keislaman dengan semangat kebangsaan. Dari sana kita belajar bahwa mencintai agama dan mencintai Indonesia bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua amanah yang dapat dijalankan secara bersamaan.
Selamat Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Mari memperkuat iman, merawat persatuan, dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari demi Indonesia yang damai, adil, dan bermartabat.
Baca Juga: Guru Agama yang Menyesatkan Umat
Penulis: Muhammad Nawa Syarif
Editor: Yusril Mahendra

