Beberapa hari lalu, kami berkesempatan mengikuti Simposium Nasional Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i yang diselenggarakan di UIN Raden Mas Said Surakarta. Banyak gagasan menarik yang disampaikan para narasumber, mulai dari pemikiran keislaman KH. Ahmad Rifa’i hingga relevansinya dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Namun, ada satu pernyataan yang paling membekas dalam ingatan saya. Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Umum Angkatan Muda Rifa’iyah (AMRI) ketika menjelaskan apa sebenarnya aset terbesar yang dimiliki Rifa’iyah.
Beliau mengatakan,
“Aset Rifa’iyah sampai sekarang pertama karya-karya ilmu yang diwariskan dari guru-guru kami, Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i.
Warisan kedua yang memperkuat Rifa’iyah adalah seduluran. Rifa’iyah dikuatkan sampai saat ini bukan karena aset tambang, bukan karena aset kekuasaan, tetapi karena aset ukhuwatur Rifa’iyah.”
Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa di dalamnya tersimpan pesan yang sangat mendalam. Pernyataan itu dapat dimaknai sebagai cara pandang tentang bagaimana sebuah perjuangan dapat bertahan lintas generasi.
Warisan yang Tidak Berwujud, tetapi Sangat Bernilai
Saat mendengar kata aset, sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan sesuatu yang bernilai secara materi. Tanah, bangunan, perusahaan, atau sumber daya alam sering kali menjadi ukuran kekuatan sebuah lembaga.
Namun, Rifa’iyah memiliki cara pandang yang berbeda.
Warisan pertama yang disebutkan adalah karya-karya keilmuan peninggalan Syaikhina KH. Ahmad Rifa’i. Warisan ini menjadi fondasi utama perjalanan dakwah Rifa’iyah sejak awal berdiri.
KH. Ahmad Rifa’i tidak meninggalkan kekayaan dalam bentuk materi. Beliau justru mewariskan ilmu. Puluhan karya yang beliau tulis menjadi sumber pembelajaran, pegangan dakwah, sekaligus bukti bahwa perjuangan selalu dilandasi dengan kekuatan ilmu pengetahuan.
Hingga hari ini, karya-karya tersebut masih dipelajari, diajarkan, dan menjadi bagian dari tradisi keilmuan warga Rifa’iyah. Inilah aset yang nilainya tidak akan pernah berkurang. Semakin dipelajari, semakin berkembang. Semakin diajarkan, semakin luas manfaatnya.
Aset Rifa’iyah: Seduluran yang Menjadi Kekuatan
Namun, ilmu saja tidak cukup. Ilmu membutuhkan orang-orang yang bersedia menjaganya. Di sinilah letak pentingnya warisan kedua yang disampaikan oleh Ketua Umum Angkatan Muda Rifa’iyah, yaitu seduluran.
Dalam bahasa Jawa, seduluran bukan hanya berarti persaudaraan. Maknanya jauh lebih dalam. Ada rasa saling memiliki, saling membantu, saling menghormati, dan saling menguatkan dalam setiap keadaan.
Nilai inilah yang selama ini menjadi kekuatan sosial warga Rifa’iyah.
Ketika ada kegiatan dakwah, pendidikan, atau kegiatan sosial, warga bergerak bersama. Ketika ada saudara yang sedang mengalami kesulitan, banyak yang hadir tanpa harus diminta. Ketika muncul tantangan dalam organisasi, semangat kebersamaan menjadi energi untuk mencari jalan keluar.
Hubungan seperti ini tidak lahir karena aturan organisasi semata. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa setiap warga adalah bagian dari keluarga besar yang memiliki tujuan perjuangan yang sama.
Ukhuwah Adalah Aset yang Sesungguhnya
Pernyataan “bukan karena aset tambang, bukan karena aset kekuasaan” menjadi penegasan bahwa kekuatan Rifa’iyah tidak bergantung pada hal-hal yang bersifat materiil.
Banyak organisasi tumbuh karena memiliki modal besar atau kedekatan dengan kekuasaan. Namun, tidak sedikit pula yang melemah ketika modal itu hilang atau kekuasaan berganti.
Rifa’iyah justru menunjukkan bahwa ada aset yang jauh lebih kokoh daripada semua itu, yaitu ukhuwatur Rifa’iyah.
Ukhuwah harus hadir dalam sikap sehari-hari. Terlihat dari kemauan untuk saling mendengar, saling menghargai perbedaan pendapat, saling membantu tanpa pamrih, dan tetap menjaga hubungan baik meskipun memiliki latar belakang yang berbeda.
Inilah modal sosial yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Selama ukhuwah tetap terjaga, dakwah akan terus hidup, dan nilai-nilai perjuangan KH. Ahmad Rifa’i akan tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca Juga : Simposium Pemikiran KH Ahmad Rifa’i Soroti Relevansi Warisan Intelektual bagi Islam Kontemporer di Nusantara
Menjaga Warisan, Menjaga Masa Depan
Bagi generasi muda Rifa’iyah, kutipan tersebut menjadi pengingat bahwa tugas kita bukan hanya menjadi penerus secara administratif, tetapi juga menjadi penjaga nilai.
Menjaga karya-karya KH. Ahmad Rifa’i berarti terus belajar, mengkaji, dan menghidupkan tradisi keilmuan yang telah diwariskan.
Sementara menjaga ukhuwatur Rifa’iyah berarti terus merawat seduluran, menguatkan komunikasi, memperluas kolaborasi, menghindari perpecahan, dan membiasakan diri untuk hadir ketika saudara membutuhkan.
Karena pada akhirnya, sebuah organisasi tidak hanya bertahan karena memiliki gedung yang megah atau aset yang melimpah. Ia bertahan karena memiliki manusia-manusia yang saling percaya dan tetap menjaga nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulunya.
Mungkin inilah makna terdalam dari kutipan yang disampaikan Ketua Umum Angkatan Muda Rifa’iyah.
Bahwa aset terbesar Rifa’iyah bukanlah sesuatu yang dapat dicatat dalam laporan keuangan, melainkan sesuatu yang hidup di dalam hati setiap warganya: warisan ilmu yang terus dipelajari dan ukhuwatur Rifa’iyah yang terus dirawat.
Selama dua warisan ini tetap dijaga, insyaallah Rifa’iyah akan terus kokoh, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk generasi-generasi yang akan datang.
Penulis: Sofarul Wildan Akhmad
Editor: Tim Redaksi

