Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلّٰهِ، الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِيْمَانَ أَسَاسَ السَّعَادَةِ فِي الدَّارَيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الصَّادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ
الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya taqwa, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pada kesempatan ini, khatib ingin mengajak jamaah sekalian merenungi hakikat Iman dan Islam sebagaimana yang diajarkan oleh ulama besar Nusantara, KH. Ahmad Rifa’i dalam kitabnya Syarihul Iman.
Beliau menegaskan bahwa Iman bukan sekadar ucapan lisan atau label identitas, melainkan keyakinan hati yang mendalam (jazem) terhadap semua yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Islam berarti tunduk secara lahiriyah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Namun, KH. Ahmad Rifa’i mengingatkan dalam kitabnya:
“Islamnya seseorang di dunia tidak sah dan tidak bermanfaat di akhirat jika hatinya tidak mempunyai iman. Orang tersebut dihukumi Islam menurut manusia, namun kafir menurut Allah.” (Syarihul Iman).
Jamaah yang berbahagia, Salah satu syarat sahnya iman menurut beliau adalah senang hati. Hati harus rela dan ridha menerima hukum Allah, baik itu perintah yang wajib maupun larangan yang haram. Beliau mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 65:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحُكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْ أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, sehingga kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
Kaitan dengan Peristiwa Aktual: Di zaman sekarang, kita melihat fenomena di mana banyak orang mengaku beriman, namun hatinya merasa “berat” atau bahkan benci terhadap aturan agama ketika aturan tersebut menghalangi kepentingan duniawinya.
Dalam dunia politik, ekonomi, maupun sosial, seringkali kejujuran dan amanah digadaikan demi jabatan atau kekayaan.
Kitab Syarihul Iman memperingatkan tentang bahaya keraguan dan kebencian terhadap hukum agama. Jika seseorang melakukan ibadah atau mengucapkan syahadat hanya untuk tujuan mencari kemuliaan duniawi, maka imannya terancam menjadi Iman Mardud (iman yang ditolak).
Sebagaimana kutipan ulama dalam kitab tersebut mengenai definisi iman:
الْإِيْمَانُ بِالتَّصْدِيْقِ وَالنُّطْقُ فِيْهِ الْخُلْفُ فِي التَّحْقِيْقِ
Artinya: “Iman itu dengan pembenaran hati (tashdiq), sedangkan mengucapkan syahadat, dalam perselisihan ulama tentang hakikat iman (apakah ia bagian dari rukun atau syarat sah iman di dunia).” (Syarihul Iman).
Hal ini menjadi teguran keras bagi kita. Jangan sampai kita menjadi orang beridentitas muslim secara lahir, namun di dalamnya kita mengikuti jejak kaum munafik yang disebutkan dalam kitab tersebut: orang yang bersyahadat dan shalat hanya sebagai topeng untuk mencapai tujuan dunia, sementara hatinya jauh dari Allah.
Oleh karena itu, marilah kita periksa kembali hati kita. Apakah kita sudah benar-benar ridha dengan aturan-aturan Allah? Ataukah kita masih sering memilah-milih hukum Allah; mengambil yang menguntungkan hawa nafsu kita, dan membuang yang memberatkan kita?
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang juga menjadi ruh dalam bab iman:
أَفْضَلُ إِيْمَانِ الْمَرْءِ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى مَعَهُ حَيْثُ كَانَ
Artinya: “Lebih utama-utamanya iman seseorang adalah seorang mukmin yang mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menyertai dirinya di manapun berada.” (HR. Ath-Thabrani/ Syarihul Iman).
Jika kita sadar Allah selalu mengawasi, maka tidak akan ada kecurangan dalam timbangan dagangannya, tidak ada korupsi dalam jabatan, dan tidak ada pengkhianatan dalam amanah.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kemurnian iman kita, menjauhkan kita dari sifat nifaq (kemunafikan), dan menjadikan kita hamba-hamba yang istiqomah di jalan-Nya hingga akhir hayat.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ
وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَتَعْظِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى
آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا
اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Download file pdf: Khutbah Jumat: Hakikat Iman dan Islam
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

