Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Khutbah

Khutbah Jumat: Kontrasnya Akhlak Rasulullah dengan Para Tokoh Agama

Antara Tawadhu’ Sang Nabi dan Godaan Ketokohan Zaman Ini

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
July 2, 2026
in Khutbah
0
Khutbah

Jemaah mendengarkan Khutbah di dalam masjid. (Kemenag Maluku)

0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بَعَثَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ وَأَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الَّذِي لَا مُلْكَ لِأَحَدٍ سِوَاهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي اخْتَارَ الْعُبُودِيَّةَ عَلَى الْمُلْكِ وَالتَّوَاضُعَ عَلَى الرِّفْعَةِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral Muslimin, Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,

Izinkan khatib membuka mimbar Jumat yang mulia ini dengan sebuah percakapan ringan yang barangkali pernah pula singgah di telinga kita. Suatu ketika, seorang saudara melontarkan pertanyaan sederhana namun menggelitik, “makan yang paling tidak enak itu, makan bersama siapa?” Ada yang menjawab spontan, “makan bersama orang yang sedang marah.” Namun jawaban saudara yang lain justru berbeda, “makan bersama Kiai.” Dahi pun berkerut mendengarnya, sebab bukankah di antara keberkahan hidup ini adalah berkumpul bersama orang-orang saleh? Tetapi penjelasan berikutnya membuat kita mengangguk paham, “biasanya kalau makan bersama Kiai, semua hidangan yang enak-enak tersedia lengkap di meja, tetapi begitu hendak mengambil, hati ini serba pakewuh, serba segan, serba menahan diri.”

Rupanya, keadaan semacam ini pernah pula menimpa para sahabat ketika berhadapan dengan Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan dalam Ath-Thabaqat al-Kubra karya Imam Ibnu Sa’ad, dengan sanad yang dinilai shahih mursal oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, bahwa seorang laki-laki datang menemui Nabi ﷺ untuk berbicara dengan beliau. Karena rasa segan dan gentar yang begitu besar, tubuh orang tersebut sampai gemetar hebat. Melihat hal itu, Rasulullah ﷺ segera menenangkannya dengan sabda yang begitu menyejukkan:

هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ، إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ كَانَتْ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ

“Tenanglah, sesungguhnya aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah putra dari seorang perempuan Quraisy yang biasa memakan dendeng (daging kering).” (HR. Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat al-Kubra 1/23; dishahihkan Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1876)

Subhanallah. Manusia paling mulia sepanjang zaman, kekasih Allah, pemimpin para nabi dan rasul, justru bersegera menghapus jarak dan meruntuhkan sekat kewibawaan yang bisa jadi tanpa sengaja tercipta dari ketokohannya. Beliau tidak ingin dijadikan sesosok penguasa yang ditakuti, melainkan seorang manusia biasa yang dicintai dan didekati.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Belakangan ini, di berbagai forum, tidak jarang kita mendengar obrolan santai para alumni pondok pesantren yang justru menyimpan keresahan yang dalam. Rerasan itu bergulir tentang fenomena aktual: bagaimana sebagian tokoh agama justru terlibat perselisihan dan perpecahan dalam tubuh organisasi yang mereka pimpin sendiri, bagaimana sebagian yang lain terjerat kasus-kasus pelecehan yang mencederai kepercayaan umat, bagaimana ada syariat yang justru dilanggar di hadapan jemaah yang biasa mereka nasihati, dan bagaimana gaya hidup gemerlap kadang tumbuh subur dari mimbar-mimbar yang semestinya menjadi teladan kesederhanaan. Fenomena ini oleh sementara kalangan disebut sebagai ‘dunia terbalik’, di mana ahli agama justru menampilkan perilaku yang mendekati asfala safilin, serendah-rendahnya martabat. Sebagian umat pun sampai merasa malu, seandainya menjadi pengikutnya, atau sekadar menjadi warga dari organisasi kemasyarakatan tertentu, hanya karena perilaku sebagian tokohnya.

Bukan maksud khatib untuk menggeneralisasi, sebab jauh lebih banyak kiai, ulama, dan tokoh agama yang istikamah menjaga amanah keilmuan dan keteladanannya. Namun sebagai bahan muhasabah bersama, ada baiknya kita telusuri akar persoalan ini. Fenomena tersebut, jika direnungkan, sesungguhnya sulit dihindarkan manakala modal utama seorang tokoh agama telah bergeser: dari ilmu dan keteladanan, menjadi ketokohan untuk meraih kekuasaan ekonomi dan kekuasaan agama sekaligus. Ketika pengaruh keagamaan mulai dikonversi menjadi kapital duniawi, maka mudah sekali muncul jarak antara apa yang dikhutbahkan dengan apa yang dijalankan sehari-hari.

Padahal, Rasulullah ﷺ sendiri pernah ditawari pilihan yang sangat menggiurkan, yaitu menjadi Malikan Nabiyyan, seorang nabi yang sekaligus raja/penguasa, atau menjadi Abdan Rasulan, seorang rasul yang berkedudukan sebagai hamba biasa, bukan penguasa. Peristiwa agung ini terekam dalam Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, hadits nomor 7160, yang dinyatakan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth sebagai hadits yang sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: جَلَسَ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا مَلَكٌ يَنْزِلُ، فَقَالَ جِبْرِيلُ: إِنَّ هَذَا الْمَلَكَ مَا نَزَلَ مُنْذُ يَوْمَ خُلِقَ قَبْلَ السَّاعَةِ، فَلَمَّا نَزَلَ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَرْسَلَنِي إِلَيْكَ رَبُّكَ، أَفَمَلِكًا نَبِيًّا يَجْعَلُكَ أَوْ عَبْدًا رَسُولًا؟ قَالَ جِبْرِيلُ: تَوَاضَعْ لِرَبِّكَ يَا مُحَمَّدُ. قَالَ: بَلْ عَبْدًا رَسُولًا

“Dari Abu Hurairah, ia berkata: Jibril duduk di samping Nabi, lalu beliau menengadah ke langit, dan tampaklah seorang malaikat sedang turun. Jibril berkata, ‘Sesungguhnya malaikat ini belum pernah turun sejak ia diciptakan, sampai menjelang hari kiamat ini.’ Setelah turun, malaikat itu berkata, ‘Wahai Muhammad, Tuhanmu mengutusku kepadamu; apakah engkau ingin dijadikan seorang raja sekaligus nabi, ataukah seorang hamba sekaligus rasul?’ Jibril berkata, ‘Rendahkanlah dirimu (bertawadhulah) kepada Tuhanmu, wahai Muhammad.’ Maka Nabi  menjawab, ‘Aku memilih menjadi seorang hamba dan rasul.’” (HR. Ahmad, Musnad Al-Imam Ahmad no. 7160; kata Syu’aib Al-Arna’uth: isnaduhu shahih ‘ala syarthi asy-Syaikhain)

Lihatlah, Jemaah yang dirahmati Allah. Ketika kesempatan menjadi penguasa itu terbentang di hadapannya, Rasulullah ﷺ justru memilih jalan sebagai hamba. Bukan karena beliau tidak mampu memimpin, sebab justru beliau adalah kepala negara, panglima perang, sekaligus kepala rumah tangga yang berhasil. Namun beliau meletakkan kekuasaan sebagai amanah untuk melayani, bukan panggung untuk dilayani dan diagungkan.

Fenomena tokoh agama yang bergeser orientasinya dari pelayanan menuju penguasaan sesungguhnya bukan hal baru dalam sejarah umat manusia. Allah SWT telah mengingatkan hal ini jauh-jauh hari di dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak dari pendeta-pendeta Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta manusia dengan jalan yang batil, serta menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak lalu tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka sampaikanlah kepada mereka kabar tentang azab yang pedih.” (QS. At-Taubah [9]: 34)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai peringatan keras, sebab kerusakan yang ditimbulkan oleh tokoh agama yang menyalahgunakan kedudukannya jauh lebih berbahaya daripada kerusakan orang awam, karena umat menggantungkan agamanya kepada mereka. Beliau bahkan mengutip sebuah syair lama yang menggambarkan hal ini dengan tajam:

وَهَلْ أَفْسَدَ الدِّينَ إِلَّا الْمُلُوكُ ۞ وَأَحْبَارُ سُوءٍ وَرُهْبَانُهَا

“Tidaklah yang merusak agama ini melainkan para penguasa (yang zalim), serta para pendeta yang buruk dan rahib-rahibnya.” (Dikutip Ibnu Katsir dalam tafsirnya, QS. At-Taubah: 34)

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Persoalan lain yang tidak kalah pelik adalah ketika ucapan dan perbuatan berjalan pada rel yang berbeda; ketika mimbar menyerukan satu hal, namun kehidupan pribadi menampilkan hal yang sebaliknya. Allah SWT menegur keras perilaku semacam ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sungguh besar kebencian di sisi Allah, bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff [61]: 2-3)

Rasulullah ﷺ pun mengabarkan konsekuensi berat dari sikap semacam ini kelak di akhirat. Dalam hadits yang disepakati keshahihannya oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ، فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ

“Akan didatangkan seseorang pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka hingga terburai usus-ususnya. Ia berputar-putar dengan ususnya sebagaimana keledai berputar mengelilingi alat penggilingan. Maka penghuni neraka pun berkumpul mengelilinginya seraya bertanya, ‘Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Benar, dahulu aku memerintahkan kebaikan namun aku sendiri tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran namun aku sendiri mengerjakannya.’” (Muttafaq ‘Alaih — HR. Bukhari no. 3267 dan Muslim no. 2989, dari Usamah bin Zaid ra.)

Na’udzubillahi min dzalik. Ancaman ini bukan ditujukan khusus kepada tokoh agama semata, melainkan kepada siapa saja yang menjadikan agama sebagai alat penampilan, bukan jalan penghambaan. Namun tentu, semakin tinggi kedudukan dan pengaruh seseorang di mata umat, semakin besar pula amanah dan pertanggungjawaban yang harus dipikulnya.

Jemaah yang dimuliakan Allah,

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang pemimpin besar yang justru terkenal dengan kesederhanaan dan kewaspadaannya dalam menjaga diri dari godaan kekuasaan, pernah berpesan kepada umat:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوهَا قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا

“Hisablah (introspeksilah) diri kalian sebelum kalian dihisab kelak, dan timbanglah amal kalian sebelum ia ditimbang.” (Atsar Umar bin Khattab ra., diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Jami’-nya)

Pesan ini sepatutnya menjadi cermin bagi kita semua, baik bagi para kiai, ustadz, tokoh organisasi, maupun jemaah biasa. Bagi para tokoh dan pemimpin umat, pesan ini adalah pengingat agar kedudukan yang Allah titipkan tidak berubah menjadi ajang mengumpulkan kekuasaan ekonomi dan agama sekaligus, melainkan dijaga sebagai amanah dakwah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sebagaimana Rasulullah ﷺ yang lebih memilih menjadi ‘abdan rasulan daripada malikan nabiyyan, sudah semestinya setiap kita yang diberi kepercayaan dan pengaruh di tengah umat meneladani pilihan mulia tersebut: menjadikan ketokohan sebagai sarana pelayanan (khidmah), bukan sebagai singgasana kekuasaan.

Sementara bagi kita sebagai jemaah dan umat, pesan ini pun menjadi pengingat agar tidak jatuh pada sikap ghuluw, berlebih-lebihan dalam mengagungkan sesosok tokoh hingga lupa bahwa yang layak diagungkan secara mutlak hanyalah Allah SWT semata. Rasulullah ﷺ sendiri telah mewanti-wanti para sahabatnya agar tidak menyanjungnya secara berlebihan sebagaimana umat Nasrani menyanjung Isa putra Maryam.

Maka, marilah kita jadikan mimbar Jumat yang mulia ini sebagai momentum introspeksi bersama. Bagi siapa saja di antara kita yang diberi amanah keilmuan, kepemimpinan, atau ketokohan, jadikanlah teladan Rasulullah ﷺ sebagai kiblat: rendah hati meski mulia, sederhana meski dihormati, dan senantiasa selaras antara ucapan dengan perbuatan. Sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan Imam Muslim:

مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah ra.)

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita, menjaga hati para ulama dan pemimpin umat, agar ilmu dan ketokohan yang dititipkan kepada mereka benar-benar menjadi jalan cahaya bagi umat, bukan menjadi fitnah yang justru menjauhkan umat dari agama-Nya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنِ اقْتَدَى بِأَخْلَاقِ نَبِيِّهِ، وَتَوَاضَعَ كَمَا تَوَاضَعَ حَبِيبُهُ، اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ عُلَمَاءَنَا وَقَادَتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُدْوَةً صَالِحَةً لِهَذِهِ الْأُمَّةِ، وَجَنِّبْهُمُ الْكِبْرَ وَحُبَّ الرِّئَاسَةِ وَالدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Daftar Rujukan

  1. Al-Qur’an: QS. At-Taubah [9]: 34; QS. Ash-Shaff [61]: 2-3.
  2. Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat al-Kubra, jilid 1 (hadits ditakhrij shahih mursal oleh Al-Albani, As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1876).
  3. Al-Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, hadits no. 7160 (tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth: shahih ‘ala syarthi asy-Syaikhain).
  4. Al-Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, no. 3267; Al-Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 2989 (hadits Usamah bin Zaid ra.).
  5. Al-Imam Muslim, Shahih Muslim (hadits tawadhu’, dari Abu Hurairah ra.).
  6. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, tafsir QS. At-Taubah: 34.
  7. Atsar Umar bin Khattab ra., diriwayatkan At-Tirmidzi dalam Jami’ At-Tirmidzi.

Download file PDF: Khutbah Jumat: Kontrasnya Akhlak Rasulullah dengan Para Tokoh Agama


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: khutbahkhutbah jumatkhutbah jumat terbaruRasulullahteks khutbah jumat
Previous Post

Biodiesel B50 Resmi Berlaku Mulai 1 Juli 2026

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.