Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Membangun Umat Berilmu, Berniat, Bersabar, dan Ikhlas

Reportase Mendalam Selapanan Ahad Kliwon Rifa’iyah Kesesi Bersama KH. Mahfudz Isrofi

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
June 8, 2026
in Kolom
0
Membangun Umat Berilmu
0
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Pembuka: Persatuan sebagai Fondasi Gerakan

Siang itu, di majelis Selapanan Ahad Kliwon (05/03/2021), Pimpinan Cabang Rifa’iyah Kesesi kembali menjadi panggung ilmu dan refleksi. Di hadapan para pimpinan dan kader AMRI yang hadir dari berbagai daerah, KH. Mahfudz Isrofi membuka ceramahnya dengan seruan yang bukan sekadar basa-basi, melainkan sebuah deklarasi jiwa:

“Wahai generasi muda sejati, marilah di hari yang baru ini menjalin persatuan antar Amri, supaya terbina ukhuwah Islam hakiki.”

Kalimat pembuka itu bukan hanya retorika. Ia adalah peta jalan. Bagi KH. Mahfudz, yang juga Pimpinan Wilayah RIfa’iyah Jawa Tengah, persatuan bukan tujuan akhir, melainkan syarat pertama agar agenda perjuangan bisa dijalankan. Tanpa barisan yang rapat, program sebesar apapun hanya akan menjadi tulisan di atas kertas.

Beliau menekankan agar setiap gagasan, setiap hasrat untuk bergerak, tidak ditunda. Ketika ada keinginan, langsung merapat, langsung dicanangkan. Itulah semangat yang beliau tanamkan: tidak ada kata menunggu dalam perjuangan.

Empat Pilar Amal Shalih Sejati

Inti dari ceramah siang itu adalah penegasan ulang tentang makna amal yang sesungguhnya. KH. Mahfudz mengutip pandangan Sahabat Nabi Saw., Muadz bin Jabal, yang dituliskan oleh Imam Nawawi: bahwa suatu perbuatan baru bisa disebut amal yang saleh (amal usholih) apabila memenuhi empat syarat mutlak.

Al-Ilmu — Ilmu sebagai Pijakan

Syarat pertama adalah ilmu. Bukan sekadar membaca atau menghafal, melainkan memahami dasar dan landasan dari setiap amal yang dikerjakan. KH. Mahfudz memberikan ilustrasi yang menggugah:

“Bayangkan seseorang menghatamkan 30 juz Al-Qur’an dalam satu majelis. Apakah itu otomatis menjadi amal saleh? Tidak — jika tanpa ilmu tajwid, yang diraih bukan pahala, melainkan ancaman laknat.”

Beliau mengutip Imam Rafi’i yang menegaskan hal serupa dalam konteks salat: betapa sempurnanya tampilan seseorang saat salat — ruku’ tepat, sujud benar, duduk tahiyat sempurna — namun jika dikerjakan tanpa ilmu yang mendasarinya, maka ibadah itu tidak dianggap sah. Ini bukan soal niat, ini soal kapasitas.

Oleh karena itu, KH. Mahfudz menyerukan agar majelis-majelis taklim terus dihidupkan di setiap tingkatan, dari ranting hingga wilayah. “Minimal tiga bulan sekali, kumpulkan, ngaji.” Sebuah target yang terdengar sederhana, namun mengandung komitmen yang dalam.

An-Niyyah — Niat yang Memisahkan Ibadah dari Rutinitas

Syarat kedua adalah niat. Kepala Yayasan An-Najah Limpung Batang ini mendefinisikannya dengan tajam: niat adalah garis batas yang memisahkan aktivitas ibadah dari aktivitas biasa. Dua orang bisa mengerjakan gerakan yang sama persis, namun satu bernilai ibadah dan satu tidak — karena perbedaan niat.

Dalam konteks berorganisasi, niat juga menjadi kunci. Apakah kita hadir di majelis ini karena sungguh-sungguh ingin berjuang, atau sekadar memenuhi kewajiban administratif? Jawabannya hanya ada di hati masing-masing.

As-Shabr — Sabar: Kekuatan Sejati Para Pejuang

“Sabar itu mampu menahan gejolak hati yang bertentangan dengan visi dan misi yang kita sepakati. Menahan godaan untuk berhenti, untuk mundur, untuk kompromi dengan kemunafikan.”

Kesabaran adalah pilar ketiga, dan mungkin yang paling sering diuji. KH. Mahfudz menggambarkan betapa sulitnya konsistensi dalam berorganisasi: pulang selapanan sudah lelah, tapi bulan depan harus kembali lagi. Selapanan berikutnya ada agenda rapat. Lalu selapanan berikutnya ada program baru. Tanpa kesabaran, semua itu akan terasa memberatkan.

Beliau mengingatkan bahwa Hadratus Syekh Ahmad Rifa’i — panutan organisasi ini — adalah sosok yang mencontohkan kesabaran paling tinggi: tahan uji, tahan banting, dalam melaksanakan perintah Allah. Dan itu bukanlah kelemahan; itu adalah kekuatan tertinggi seorang hamba.

Al-Ikhlash — Ikhlas: Ruh dari Semua Amal

Pilar keempat adalah ikhlas. Tanpa keikhlasan, tiga pilar sebelumnya hanyalah kulit tanpa isi. Ilmu yang luas, niat yang baik, kesabaran yang panjang — semuanya bisa gugur jika hati tidak ikhlas.

“Beramal salehlah bersama orang-orang yang rindu untuk bertemu dengan Tuhannya. Undanglah dirimu masuk ke dalam barisan mereka.”

Pesan ini bukan hanya ajakan spiritual, melainkan kritik halus terhadap amaliyah yang terseret oleh motif duniawi: ingin dikenal, ingin dipuji, ingin dihitung jasanya. Keikhlasan mengikis semua itu.

IULA: Lebih dari Sekadar Iuran

Salah satu agenda penting yang dibahas dalam forum ini adalah penguatan program IULA (Iuran Wajib Warga). KH. Mahfudz mengangkat keputusan wilayah yang menetapkan iuran bulanan sebagai bahan refleksi, bukan keluhan.

Banyak yang mungkin bertanya: apa urgensi iuran di tengah keterbatasan ekonomi anggota? KH. Mahfudz menjawabnya dengan dua alasan mendasar yang jauh melampaui kepentingan finansial:

  1. Membangun Militansi — Iuran adalah latihan. Ia mendidik jiwa untuk rela berkorban, rela berjuang demi sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
  2. Menumbuhkan Rasa Memiliki (Andarbeni) — Ketika seseorang berkontribusi, ia merasa terlibat. Masjid itu bukan hanya milik pengurus; pesantren itu bukan hanya milik kiai — itu milik kita bersama.

“Tidak ada organisasi besar di dunia ini yang bisa bertahan tanpa iuran. Muhammadiyah dengan asetnya yang luar biasa, Nahdlatul Ulama dengan jutaan warganya — keduanya tetap menjalankan iuran. Karena iuran bukan soal uang; iuran soal jiwa.”

Sains Modern dan Mukjizat: Dialog yang Perlu Hati-Hati

Forum siang itu menjadi semakin hidup ketika seorang peserta, yang disebut Pak Dotor Ali, memperkenalkan sebuah perspektif ilmiah modern yang mencoba memahami peristiwa Isra’ Mi’raj melalui lensa fisika partikel.

Teori yang disampaikan merujuk pada fenomena annihilasi dalam fisika kuantum: ketika elektron bertemu dengan antinya (positron), keduanya lenyap dan berubah menjadi energi cahaya yang bergerak dengan kecepatan tak terbatas. Dari sini diajukan hipotesis: secara teoretis, Rasulullah Saw. bisa saja mengalami transformasi serupa saat perjalanan Isra’ Mi’raj.

Ilustrasi kecil yang diberikan adalah mesin faks — di mana tulisan di satu sisi dunia bisa “dikirimkan” ke sisi lain dalam hitungan detik melalui transformasi sinyal. Para ilmuwan, lanjutnya, memproyeksikan bahwa pada tahun 2050, teknologi teleportasi berbasis partikel mungkin bisa direalisasikan.

Respons KH. Mahfudz: Dua Argumen Teologis

Merespons gagasan tersebut, KH. Mahfudz tidak menolak ilmu pengetahuan, namun memberikan dua garis batas yang tegas:

  1. Manusia bukan sekadar partikel. Ada dimensi yang jauh melampaui fisika: arwah (ruh). Hingga kini, tidak ada satu pun ahli fisika di dunia yang mampu mendefinisikan, mengukur, atau mendeteksi ruh. Sehingga teori partikel, secanggih apapun, tidak bisa sepenuhnya menjelaskan manusia.
  2. Isra’ Mi’raj adalah mukjizat — bukan teknologi. Mukjizat justru berfungsi untuk melemahkan seluruh daya upaya manusia. Jika sains suatu saat bisa “meniru” Isra’ Mi’raj, maka ada bahaya besar: orang akan mulai meragukan relevansi Al-Qur’an.

“Kalau itu bisa dilakukan manusia, nanti orang akan mengatakan Al-Qur’an sudah tidak relevan dengan zaman. Ini bahaya. Maka agama harus tetap menjadi dasar, basic, dari setiap pemikiran.”

Pesan ini bukan anti-sains. Ini adalah ajakan untuk menempatkan sains pada posisinya yang benar: sebagai alat memahami ciptaan, bukan sebagai penentu batas keimanan. Ilmu pengetahuan dan keyakinan agama bukan dua kubu yang bertempur, melainkan dua sayap yang, bila terbang bersama, membawa umat ke ketinggian yang sesungguhnya.

Penutup: Ilmu, Niat, Sabar, Ikhlas — Empat Kunci untuk Satu Tujuan

Selapanan Rifa’iyah yang berlangsung di Srinahan, Kesesi siang itu bukan sekadar pengajian rutin. Ia adalah ruang di mana nilai-nilai ditegaskan kembali, program dicanangkan, dan jiwa-jiwa dikuatkan. KH. Mahfudz Isrofi, dengan gaya penuturannya yang langsung namun penuh kedalaman, merangkum segalanya dalam satu formula:

“Ibadah tanpa niat adalah kekosongan. Niat tanpa sabar adalah khayalan. Sabar tanpa ikhlas adalah kepura-puraan. Namun keempat-empatnya bersama, itulah amal usholih yang sesungguhnya.”

Di era ketika umat Islam — khususnya generasi muda — menghadapi gempuran ideologi, distraksi digital, dan degradasi nilai, pesan KH. Mahfudz terasa semakin relevan. Kembali ke ilmu agama bukan kemunduran; itu adalah strategi bertahan paling cerdas.

Dan bagi organisasi seperti Rifa’iyah, dengan segala tantangan pembinaan kader dan penguatan strukturnya, forum seperti selapanan ini adalah jantung yang terus memompa kehidupan. Selama ia berdetak, harapan itu masih ada.

Baca Juga: Tiga Ilmu Sejati: Jalan Pulang ke Diri


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: amal salehAMRIikhlasIlmu agamaKesesiniatPekalongansabar
Previous Post

Mengenal Kitab Mufhamah karya KH. Ahmad Rifa’i

Next Post

Tradisi Shihah Pernikahan dalam Rifa’iyah

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Next Post
Tradisi Shihah Pernikahan dalam Rifa’iyah

Tradisi Shihah Pernikahan dalam Rifa'iyah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id