Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Muskerwil V Rifa’iyah Jawa Tengah: Bersatu Untuk Bangkit, Bergerak Untuk Maju

Reportase pelantikan Pimpinan Wilayah & Musyawarah Kerja Wilayah V Rifa'iyah Jawa Tengah

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
April 29, 2026
in Kolom
0
Muskerwil V Rifa’iyah Jawa Tengah: Bersatu Untuk Bangkit, Bergerak Untuk Maju
0
SHARES
80
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Temanggung Menjadi Saksi Sejarah

Di bawah langit Temanggung yang cerah pada Ahad pagi, 26 April 2026, Gedung Pemuda menjadi panggung bersejarah bagi ribuan warga Jamiyah Rifa’iyah se-Jawa Tengah. Mereka berhimpun dalam satu momentum yang sarat makna: Pelantikan Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah masa khidmat 2026–2030, sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) Kelima—sebuah forum organisasi paling penting dalam peta perjalanan gerakan Islam berbasis kitab tarajumah di Nusantara ini.

Tak kurang dari tokoh-tokoh penting hadir memenuhi undangan. Wakil Gubernur Jawa Tengah, K.H. Taj Yasin Maimun, rela mempersingkat agenda pribadinya di luar daerah demi hadir. Bupati Temanggung Agus Setiawan menyambut dengan penuh kebanggaan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah Dr. K.H. Mukhlisin Muzari bersama Ketua Dewan Syuro K.H. Afif Afadol memimpin prosesi pelantikan. K.H. Isrofi Makhfudz selaku ketua Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah terpilih hadir bersanding dengan K.H. Nur Yasin, dewan Syuro Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah. Hadir pula perwakilan PCNU dan Muhammadiyah Temanggung, mencerminkan persatuan lintas organisasi yang berharga. Acara ini juga diikuti unsur Pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang Rifa’iyah. Tidak ketinggalan para pengurus dan anggota Organisasi Otonom: UMRI, AMRI, HIKMAH turut serta berpartisipasi dalam helatan besar ini.

Mekso Pamit Demi Rifa’iyah

Kehadiran Wakil Gubernur Jawa Tengah K.H. Taj Yasin Maimun menjadi kejutan tersendiri yang disambut tepuk tangan meriah. Panitia mengisahkan, kabar kepastian kehadiran beliau baru diterima pada pagi hari setelah sempat diinformasikan berhalangan.

“Tadi malam saya angan-angan kok enggak enak saya enggak hadir ke Rifa’iyah. Sehingga akhirnya saya agak mekso (memaksakan diri). Pamitan mertua pun hanya lewat telepon, langsung balik ke Semarang.”

Pengakuan jujur sang Wakil Gubernur itu disambut gelak tawa hangat dan haru seisi ruangan. Di balik kesibukan agenda lintas provinsi—dari Bandung, Cirebon, hingga jadwal berikutnya di Tegalrejo Magelang—beliau memilih untuk tidak melewatkan momen bersejarah bersama Jamiyah Rifa’iyah.

Kehadiran beliau bukan sekadar protokol. Sebagai ungkapan nyata sinergi pemerintah dengan organisasi Islam berbasis pesantren, K.H. Taj Yasin turut aktif mempromosikan produk batik Rifa’iyah asal Kabupaten Batang sebagai oleh-oleh resmi di berbagai acara kunjungan dinas.

Pelajaran dari Alfiah dan Pengarangnya

Dalam arahannya yang sarat hikmah, Wakil Gubernur membawakan sebuah kisah yang jarang terdengar: kisah pengarang Kitab Alfiah, Ibnu Malik. Kitab yang kini menjadi standar pembelajaran bahasa Arab di pesantren seluruh dunia—dari Damaskus hingga Maroko, dari Turki hingga Yaman—ternyata lahir dari sebuah keistikamahan yang sunyi.

Ibnu Malik mengajarkan Alfiah selama bertahun-tahun di Masjid Umawi Damaskus. Menyadari tak seorang pun datang, beliau mengubah strategi: berdakwah di tengah pasar, menyeru orang-orang Arab untuk belajar bahasa mereka sendiri. Namun tetap saja, tak ada yang datang—berlangsung selama berminggu-minggu.

“Kalau kita mau istikamah, orang itu tidak melihat berapa jumlah yang datang. Akan tetapi berapa orang yang melalui keistikamahan itu tersentuh dan terbuka.”

Pesan ini digandengkan langsung dengan perjalanan KH. Ahmad Rifa’i—ulama Nusantara yang karya-karyanya kini menjad kajian dan rujukan akademisi di berbagai PTKIN seluruh Indonesia. Istikamah, keikhlasan, dan kegigihan adalah warisan abadi yang harus diteruskan generasi Rifa’iyah hari ini.

Dua Perjalanan: Ke Bawah Lautan dan ke Langit

Untuk menguatkan semangat warga Rifa’iyah agar tak merasa kecil, Wakil Gubernur menuturkan perbandingan dua perjalanan surgawi yang mengagumkan: Nabi Yunus yang turun ke kedalaman lautan dalam perut ikan, dan Nabi Muhammad SAW yang naik ke langit ketujuh dalam Isra Mikraj.

Meski berbeda arahnya—satu turun, satu naik—keduanya bermuara pada perjumpaan dengan Allah SWT dan mendapat ridha-Nya. Dari sini, beliau menegaskan: besar-kecilnya sebuah organisasi bukanlah tolok ukur. Yang terpenting adalah kualitas, keikhlasan, dan arah perjuangannya.

“Kata siapa Rifa’iyah kecil? Sumbernya juga banyak, dakwahnya luar biasa. Kitab-kitab dan syi’ir Rifa’i juga menjadi pegangan kita bersama. Bukan hanya orang Rifa’iyah saja, tetapi juga sebagian dari Nahdlatul Ulama berpegang teguh pada ajaran KH. Ahmad Rifa’i.”

KH. Ahmad Rifa’i: Ulama Sekaligus Pejuang

Ketua Umum PP Rifa’iyah Dr. K.H. Mukhlisin Muzari menyampaikan tausiah mendalam tentang sosok yang menjadi ruh organisasi ini: KH. Ahmad Rifa’i. Beliau bukan sekadar ulama yang menulis puluhan kitab—beliau adalah pejuang kemerdekaan yang bernyali.

Ketika ulama lain mungkin berkompromi dengan kekuasaan kolonial, KH. Ahmad Rifa’i dengan tegas mengharamkan taat kepada pemerintah kafir. Konsekuensinya berat: beliau ditangkap, diadili, dan diasingkan ke Ambon. Bukan karena mengajarkan ajaran sesat, melainkan karena dianggap berbahaya oleh penjajah sebab membangkitkan semangat perlawanan rakyat.

“KH. Ahmad Rifa’i diasingkan ke Ambon bukan karena mengajarkan aliran sesat. Tapi karena sangat berbahaya—menebarkan inspirasi perlawanan rakyat kepada penjajah.”

Fitnah dan misinterpretasi terhadap ajaran beliau berjalan panjang. Murid-muridnya menanggung risiko besar. Namun dari titik itulah justru lahir kebangkitan demi kebangkitan: berdirinya Yayasan Pendidikan Islam Rifa’iyah (YPIR) yang berbadan hukum sebagai perlindungan payung hukum kepada warga dan eksistensi ajaran Rifa’iyah, lalu berdirinya organisasi nasional Rifa’iyah pada tahun 1991 sebagai kebangkitan kedua.

Menuju Kebangkitan Ketiga: Universitas Rifa’iyah

Momen Mukerwil V ini sengaja dijadikan titik peluncuran sebuah mimpi besar yang sudah lama diimpikan: kebangkitan ketiga Rifa’iyah. Jika kebangkitan pertama ditandai dengan pendirian yayasan dan kebangkitan kedua oleh organisasi nasional, maka kebangkitan ketiga diharapkan ditandai oleh berdirinya sebuah universitas.

Universitas ini bukan sekadar lembaga pendidikan biasa. Ratusan kitab karya KH. Ahmad Rifa’i yang selama ini hanya beredar dalam bahasa Jawa akan menjadi objek penelitian akademis—dikaji dari jenjang S1 hingga S3. Karya-karya besar itu, yang sulit tersebar ke luar Jawa karena kendala bahasa, perlu ditransliterasi ke bahasa Indonesia dan diberi syarah tertulis agar dapat menjangkau umat lebih luas.

“Kalau karya KH. Ahmad Rifa’i ditulis dalam bahasa Arab, sudah beredar di pesantren seluruh dunia seperti karya Imam Nawawi atau Syekh Nawawi Al-Bantani. Tapi karena berbahasa Jawa, masuk Sulawesi Utara saja sudah sangat susah.”

K.H. Mukhlisin Muzari mengungkap fakta menggembirakan: kitab-kitab KH. Ahmad Rifa’i sudah banyak diteliti oleh akademisi di berbagai PTKIN—UIN Yogyakarta, UIN Semarang, UIN Bandung, hingga UIN Cirebon. Ini membuktikan relevansi dan kekayaan intelektual yang terkandung di dalamnya.

Satu langkah konkret sudah dimulai di Pati: metode pembelajaran kitab Tarjumah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia lalu diberi syarah. Inilah benih yang diharapkan tumbuh menjadi pohon ilmu yang rindang.

Ikrar di Atas Panggung Sejarah

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dan penuh keagungan. Satu persatu nama pengurus PW Rifa’iyah Jawa Tengah masa khidmat 2025–2030 dibacakan, dipimpin oleh K.H. Mahfud Isrofi sebagai Ketua Pimpinan Wilayah bersama jajaran dari berbagai kabupaten: Batang, Pekalongan, Temanggung, Wonosobo, Kendal, Tegal, Pemalang, Pati, dan Semarang.

Mereka berdiri tegak mengikrarkan sumpah jabatan, kata demi kata yang sarat makna:

“Kami pimpinan wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah siap berjuang untuk mengamalkan dan melestarikan ajaran KH. Ahmad Rifa’i yang berakidah Islamiah dan berhaluan Ahlusunah wal Jamaah. Kami akan bekerja jujur, kompak, dan ikhlas untuk mencapai ridha Allah SWT.”

Ikrar itu bukan sekadar kata-kata. Di baliknya tergores tanggung jawab sejarah yang berat namun mulia: meneruskan warisan ulama besar yang perjuangannya telah diakui negara dengan gelar Pahlawan Nasional.

Sinergi Baru: Pemerintah dan Rifa’iyah Bersama

Bupati Temanggung Agus Setiawan dalam sambutannya dengan terbuka mengakui bahwa selama ini kontribusi pemerintah daerah terhadap Rifa’iyah memang masih kurang. Namun mulai 2026, babak baru sinergi resmi dimulai.

“Karena apapun, Temanggung untuk semua, Temanggung milik semua. Walaupun anggaran kita terbatas, tapi alhamdulillah dimulai 2026 kita sudah bisa men-support kegiatan Rifa’iyah.”

Dari sisi Pemerintah Provinsi, K.H. Taj Yasin Maimun mengajak kader-kader Rifa’iyah memanfaatkan program beasiswa Pemprov Jawa Tengah untuk guru, kiai, dan santri. Tak ada alasan untuk menolak dukungan ini—karena tujuannya satu: memajukan umat dan memperkuat sendi-sendi kebangsaan.

Di tengah berbagai tantangan dan riak-riak yang pasti ada, pesan yang disampaikan tetap optimistis: jalan terus, bekerja terus. Sebagaimana Nabi Yunus yang tetap bersabar dalam ujian, dan sebagaimana pengarang Alfiah yang tetap mengajar tanpa murid—pada akhirnya, keistikamahan yang berbuah adalah keistikamahan yang melegenda.

Catatan Penutup Reportase

Hari itu, Temanggung bukan hanya menjadi tuan rumah sebuah acara organisasi. Temanggung menjadi saksi sebuah janji, bahwa generasi Rifa’iyah hari ini tidak akan berhenti di tengah jalan. Mereka bangkit, bergerak, dan melangkah maju—membawa obor warisan KH. Ahmad Rifa’i menuju cahaya yang lebih terang.

Mukerwil V bukan akhir. Ia adalah awal dari kebangkitan ketiga.

Disusun dari rekaman kegiatan resmi Pelantikan & Mukerwil V Rifa’iyah Jawa Tengah. Temanggung, 26 April 2026.

Baca Juga: Wagub Jateng Taj Yasin: Rifa’iyah Jangan Minder, Warisan KH. Ahmad Rifa’i Diakui Nasional


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: KH. Ahmad RifaiKitab TarajumahMuskerwil V RifaiyahRifa’iyah Jawa TengahTaj Yasin MaimunTemanggung
Previous Post

Mengenal Kitab Fatawiyah Karya KH. Ahmad Rifa’i (Bagian 1)

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rifa’iyah Seragamkan Jadwal Ziarah Makam Masyayikh di Jalur Pantura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2025 Rifaiyah.or.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2025 Rifaiyah.or.id