Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

Reportase: Cinta Yang Menyatukan

Pengajian Selapanan Kolaborasi Pimpinan Daerah Rifa’iyah Pekalongan–Pemalang

Ahmad Saifullah by Ahmad Saifullah
September 8, 2026
in Kolom
0
Reportase: Cinta Yang Menyatukan
0
SHARES
21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Gema shalawat dan alunan syair perjuangan mengiringi malam penuh berkah di Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah, Jalan Dr. Sutomo No. 40, Watesalit, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang. Senin malam menjelang Selasa, 7 September 2026, ratusan jemaah dari tiga daerah — Pekalongan, Pemalang, dan Batang — berkumpul dalam Pengajian Selapanan yang digelar secara kolaboratif, sekaligus menjadi rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.

Gema Shalawat Membuka Malam

Sejak sore, suasana gedung sudah terlihat panitia mempersiapkan segala hal berkaitan dengan penyelenggaraan acara Pengajian Selapanan Pimpinan Daerah sekaligus Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Selepas isya suasana halaman gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah dipenuhi lantunan rebana shalawat yang mengalun syahdu, berpadu dengan syair-syair gubahan Kanjeng Guru Sepuh KH. Ahmad Rifa’i beserta Syair dari ulama Rifa’iyah dan penerus perjuangannya. Bait demi bait yang sarat nasihat dan pujian kepada Rasulullah ﷺ itu menjadi jembatan hati, mengantar para hadirin memasuki suasana batin yang khusyuk sebelum acara inti dimulai.

Pembukaan dan Sambutan

Acara resmi dibuka dengan wasilah Al-Fatihah yang dipimpin oleh KH. Ainurrofiq, Pengasuh Pondok Pesantren INSAP. Sosok kiai muda ini bukan wajah asing bagi jemaah Pengajian Selapanan; pada pertemuan-pertemuan sebelumnya beliau dikenal sebagai pengampu kajian Kitab Khusnul Mitholab. Namun malam itu, kajian kitab rutin sengaja ditiadakan — seluruh rangkaian acara difokuskan penuh untuk memperingati kelahiran junjungan Nabi Muhammad ﷺ.

Rangkaian sambutan kemudian mengalir. Mewakili panitia sekaligus pengurus Pimpinan Daerah Rifa’iyah Pekalongan, K. Abdul Basit Al-Hafidz menyampaikan rasa syukur yang mendalam. Dalam sambutannya, Kiai Basit menghaturkan terima kasih khusus kepada Bendahara Umum Pimpinan Pusat Rifa’iyah, H. Kadirin, yang berkenan mendukung penuh jalannya acara, baik melalui dukungan dana maupun segala kebutuhan teknis penyelenggaraan. Tak lupa, beliau menyampaikan rasa syukur atas membludaknya jumlah jemaah yang hadir malam itu — sebuah pemandangan yang menurutnya di luar dugaan, namun begitu khidmat dan penuh berkah. “niki bukan jumawa, tapi tahaduts binnikmat.” katanya.

Keikhlasan Tanpa Komando

Di tengah rangkaian acara, tradisi khas Rifa’iyah pun tak dilewatkan: penarikan infak shadaqah oleh Kiai Sorling, istilah akrab jemaah untuk “surban keliling”. Dipimpin oleh K. Hakim dan K. Muallimin, dua penggerak yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kerifa’iyahan, kegiatan kerifaiyahan dan penggalangan dana ini berjalan tanpa komando maupun instruksi khusus. Alhamdulillah, semua mengalir dari keikhlasan dan kerelaan hati masing-masing jemaah, semata mengharap ridha Allah ﷻ.

Menuju Semego, Negeri di Bawah Langit

Dalam kesempatan yang sama, Pimpinan Daerah juga mengumumkan jadwal Pengajian Selapanan berikutnya yang akan bergilir ke tiga titik: Kramatsari, Gorek, hingga Semego — desa yang oleh jemaah disebut penuh kehangatan sebagai “negeri di bawah langit”. Pimpinan Daerah berharap silaturahmi dan semangat hurmat jemaah tetap terjaga hingga rangkaian selapanan sampai ke Semego.

Mau’idhah Hasanah: Cinta Yang Menyelamatkan

Acara inti malam itu adalah mau’idhah hasanah yang disampaikan oleh KH. Makhfudz Israfi, Pimpinan Wilayah Rifa’iyah Jawa Tengah. Membawakan tema seputar kecintaan kepada Rasulullah ﷺ, Kiai Makhfudz membuka ceramahnya dengan mengangkat sebuah riwayat hadis yang masyhur: kisah seorang lelaki Baduy yang datang bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ, “Kapan hari kiamat akan tiba?”

Alih-alih menjawab langsung, Rasulullah ﷺ balik bertanya kepada lelaki tersebut, “Apa yang telah engkau persiapkan untuknya?” Sang Baduy pun jujur mengakui bahwa dirinya tidak memiliki banyak bekal amal — salat sunnah, puasa sunnah, maupun sedekah yang berlimpah — sebagaimana dimiliki sebagian sahabat lainnya. Namun ia menegaskan satu hal yang paling ia yakini: kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

al-mar’u ma’a man ahabb

“Seseorang akan bersama dengan siapa yang ia cintai.”

Kiai Makhfudz kemudian mengutip penjelasan salah seorang pensyarah hadis dalam menafsirkan makna sabda tersebut. Menurutnya, jaminan “bersama orang yang dicintai” ini menjadi kabar gembira sekaligus renungan mendalam: siapa pun yang mencintai para nabi, ulama, dan orang-orang saleh dengan setulus hati, insyaallah kelak akan dikumpulkan bersama mereka di hari kebangkitan, meski amal ibadahnya belum setara dengan mereka. Kedekatan hati dan ketulusan cinta itulah yang menjadi penghubung, bukan semata banyaknya amal.

Lebih jauh, Kiai Makhfudz menegaskan bahwa menjawab pertanyaan “kapan kiamat” bukanlah hal yang paling penting untuk direnungkan. Yang jauh lebih utama justru pertanyaan balik yang diajukan Rasulullah ﷺ sendiri: apa yang telah kita persiapkan untuk menghadapinya? Kesiapan itu, jelas beliau, terwujud dalam ibadah salat, puasa, sedekah, dan seluruh amal saleh yang menjadi bekal perjalanan menuju akhirat.

Menutup bagian ini, Kiai Makhfudz mengajak seluruh jemaah untuk meneladani kecintaan sang Baduy dan mewujudkannya dalam identitas kerifa’iyahan sehari-hari: mencintai Rasulullah ﷺ, mencintai para ulama dan pendiri perjuangan — khususnya Kanjeng Guru Sepuh KH. Ahmad Rifa’i beserta karya dan ajarannya.

Amar Makruf, Nahi Mungkar dengan Kehati-Hatian

Dalam bagian lain ceramahnya, Kiai Makhfudz turut menyinggung ajaran Kanjeng Guru Sepuh KH. Ahmad Rifa’i tentang amar makruf nahi mungkar sebagaimana termaktub dalam karya-karya beliau. Ditegaskan bahwa seorang mukmin tidak semestinya malu atau segan dalam mengajak kepada kebaikan (amar makruf). Namun, upaya mencegah kemungkaran (nahi mungkar) harus dilakukan dengan cara yang benar dan penuh pertimbangan, bukan asal dan sembarangan — sebab bila dilakukan tanpa kehati-hatian, upaya nahi mungkar yang keliru justru berisiko memunculkan kemungkaran baru yang lebih besar daripada kemungkaran yang hendak dicegah semula.

Di akhir, Kiai Makhfudz bercerita tentang tabiat orang arab di Indonesia yang enggan memberikan infaq untuk pembangunan masjid di Indonesia. Kenapa enggan? karena masjid di Indonesia terkesan apik, tetapi jemaahnya sedikit, bangunannya wah, kegiatannya kalah. Dari itibar ketemu dengan orang arab tersebut, memberi satu pelajaran berharga, bahwa gedung mewah Pimpinan Pusat Rifa’iyah harus digunakan dengan maksimal untuk kegiatan-kegiatan yang baik dan bermanfaat, sehingga kita semua yang ikut andil dalam pembangunan mendapat jariyah yang maksimal.

Penutup

Malam itu, Gedung Pimpinan Pusat Rifa’iyah di Watesalit menjadi saksi bagaimana kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan keteladanan para pendahulu mampu menyatukan jemaah dari dua daerah dalam satu majelis yang hangat dan penuh berkah. Pengajian Selapanan kolaborasi Pekalongan–Pemalang ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh K. Abrori dari Madukaran, menyisakan harapan agar semangat cinta dan kebersamaan ini terus terjaga hingga jemaah kembali bersua pada titik selapanan berikutnya di Semego.

Baca juga: Reportase: Meneladani Akhlak Nabi, Membangun Generasi Qur’ani


Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

Tags: BatangPekalonganPemalangPimpinan Daerah Rifa’iyahPimpinan Pusat Rifa'iyahRifa’iyah PemalangRifaiyahRifaiyah Pekalongan
Previous Post

Kaji Kitab Ri’ayah Al-Himmah, Pengajian Selapanan FUKKAR Soroti Ketelitian Memahami Struktur Kalimat Tarajumah

Ahmad Saifullah

Ahmad Saifullah

Jurnalis Freelance

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kembali ke Rumah: Ayo Mondok di Pesantren Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.