Agustus selalu datang dengan suasana yang khas. Jalan-jalan mulai dihiasi merah putih, sekolah sibuk menyiapkan berbagai kegiatan, dan kita kembali mendengar lagu-lagu perjuangan yang mungkin sudah begitu akrab di telinga.
Kita tahu Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Kita tahu ada banyak orang yang berjuang untuk sampai pada hari itu. Kita juga tahu bahwa kemerdekaan tidak datang dengan mudah.
Kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan bukan hanya alasan untuk mengibarkan bendera setiap bulan Agustus. Kemerdekaan merupakan amanah yang harus dijaga, diisi, dan diteruskan. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi generasi yang layak menerima amanah tersebut?
Para pejuang dahulu telah menyelesaikan bagian mereka. Mereka berjuang dengan darah, air mata, kehilangan harta, bahkan nyawa. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bisa dibilang adalah “hadiah gratis” bagi kita. Kita lahir ketika negeri ini sudah merdeka. Tidak perlu mengangkat senjata, bergerilya di hutan, atau menghadapi penjajah.
Namun, hadiah itu bukan berarti tanpa tanggung jawab.
Kemerdekaan seharusnya membuat kita semakin dewasa sebagai bangsa dan warga negara. Sayangnya, hari ini kita masih berhadapan dengan banyak persoalan. Teknologi yang seharusnya mendekatkan justru kadang menjadi ruang untuk saling menyerang. Hoaks, ujaran kebencian, dan perdebatan tanpa etika begitu mudah ditemukan.
Di sisi lain, kita masih melihat ketimpangan akses pendidikan. Banyak yang lebih nyaman menjadi penonton dan konsumen karya orang lain daripada belajar menciptakan sesuatu. Kita menikmati teknologi, budaya, dan produk luar, tetapi lupa bertanya: apa yang sudah kita hasilkan untuk negeri ini?
Rasa bangga terhadap Indonesia pun kadang kalah oleh budaya luar yang datang tanpa disaring. Menyukai budaya asing tentu bukan kesalahan. Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk tetap mengenal siapa diri kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang ingin kita pertahankan.
Menjadi generasi yang layak menerima kemerdekaan tidak selalu dilakukan dengan hal-hal besar.
Bisa dimulai dari hal sederhana, tidak ikut menyebarkan berita yang belum jelas, menghargai perbedaan, menaati aturan meski tidak ada yang mengawasi, tidak menyuap atau melakukan kecurangan kecil, menjaga lingkungan, mendukung UMKM, belajar dengan sungguh-sungguh, dan menggunakan teknologi untuk hal yang produktif.
Baca Juga : Makna Merdeka Menurut KH. Ahmad Rifa’i
Kita juga punya hak untuk mengkritik pemerintah. Bahkan, masyarakat yang merdeka seharusnya berani mengawasi kebijakan publik. Tetapi kritik tidak harus berubah menjadi kebencian. Suara yang disampaikan dengan data, akal sehat, dan etika jauh lebih berarti daripada sekadar amarah di media sosial.
Pada akhirnya, kemerdekaan tentang bagaimana kita mengisi ruang kebebasan itu dengan tanggung jawab. Para pahlawan telah memberikan modal awal. Sekarang giliran kita memastikan modal itu tidak habis begitu saja.
Sebab ukuran kemerdekaan adalah tentang seberapa serius kita menjaganya agar tetap berarti bagi generasi setelah kita. Mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan “apa yang sudah diberikan Indonesia kepada kita?”, tetapi “apa yang sudah kita berikan kepada Indonesia?”
Penulis : Sofarul Wildan Akhmad
Editor : Tim Redaksi


