TEMANGGUNG – Jajaran Dewan Syuro Pimpinan Daerah (PD) Rifaiyah Temanggung menggelar halaqoh sebagai forum silaturahmi, koordinasi, sekaligus penguatan peran Dewan Syuro dalam mengawal arah organisasi. Kegiatan berlangsung di kediaman Ketua Dewan Syuro PD Rifaiyah Temanggung, K. Samsul Maarif, Dusun Karanganyar, Desa Purwosari, Kecamatan Wonoboyo, Rabu (24/9/2026).
Halaqoh yang diinisiasi K. Samsul Maarif tersebut diikuti sekitar 35 peserta, terdiri atas 15 anggota Dewan Syuro, tujuh pengurus harian PD Rifaiyah Temanggung, serta sejumlah tokoh agama dari Ranting Rifaiyah Karanganyar.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Dewan Syuro PW Rifaiyah Jawa Tengah K. Nuryasin, Ketua Dewan Syuro PD Rifaiyah Temanggung K. Samsul Maarif, Sekretaris Dewan Syuro KH. Sargito Rohmat, Ketua PD Rifaiyah Temanggung K. Shobikhun, Sekretaris Umum PD Rifaiyah Temanggung Budi Utomo, serta jajaran pengurus harian.
Halaqoh Didorong Menjadi Forum Penyelesaian Persoalan
Ketua Dewan Syuro PD Rifaiyah Temanggung K. Samsul Maarif mengatakan, halaqoh digelar sebagai upaya mempererat silaturahmi antaranggota Dewan Syuro sekaligus menjaga kesinambungan perjuangan para pendahulu.
Menurutnya, tradisi dan nilai-nilai yang telah diwariskan perlu tetap dijaga, namun juga harus mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman.
“Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal yang baru yang lebih maslahat,” ujarnya.
Samsul Maarif berharap halaqoh Dewan Syuro dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya membahas persoalan internal organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mencari solusi atas berbagai persoalan umat.
Ia juga menyoroti mulai berkurangnya sejumlah tradisi Rifaiyah dalam kegiatan keagamaan, seperti pembacaan syaratan maupun pelaksanaan tradisi tertentu menjelang salat Jumat.
“Tidak ada kerugian bagi orang yang istikharah, tidak ada penyesalan bagi orang yang musyawarah. Oleh karena itu, saya mengusulkan forum halaqoh khusus Dewan Syuro ini menjadi agenda rutin,” katanya.
Dewan Syuro Diharapkan Menjadi Pandom Organisasi
Ketua PD Rifaiyah Temanggung K. Shobikhun mengatakan, pelaksanaan halaqoh merupakan hasil komunikasi dan diskusi dengan Ketua Dewan Syuro. Selain sebagai forum silaturahmi, kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada para sesepuh dan upaya membangun komunikasi antara Dewan Syuro dengan pengurus harian.
Menurut Shobikhun, Dewan Syuro memiliki posisi penting sebagai pandom atau penunjuk arah bagi jalannya organisasi.
“Kami menyadari bahwa pengurus baru masih memiliki banyak kekurangan. Karena itu, kami membutuhkan masukan, pengawasan, dan arahan. Untuk mencapai visi organisasi, kami tidak bisa berjalan sendiri,” terangnya.
Ia menjelaskan, pertemuan tersebut sekaligus menjadi forum taaruf antaranggota Dewan Syuro. Dengan komunikasi yang lebih intensif, diharapkan berbagai program organisasi dapat dibahas secara terbuka dan diselesaikan melalui suasana yang lebih cair.
“Kita perlu diawasi agar dapat meneruskan pondasi perjuangan organisasi yang telah dibangun para pendahulu. Dengan seringnya kita bertemu, setiap masalah diharapkan dapat terurai,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Syuro PD Rifaiyah Temanggung KH. Sargito Rohmat menegaskan bahwa organisasi tidak hanya berkaitan dengan dakwah, tetapi juga menyangkut aspek muamalah dan kehidupan sosial umat.
“Dewan Syuro bukan sebatas tulisan saja, tetapi dibutuhkan untuk memberikan masukan dan pengawalan bagi organisasi. Program tidak akan berjalan tanpa dukungan dan dorongan para orang tua,” paparnya.
K. Nuryasin: Organisasi Perlu Eksekutor dan Monitor
Ketua Dewan Syuro PW Rifaiyah Jawa Tengah K. Nuryasin dalam arahannya menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas antara pelaksana kegiatan dan pihak yang melakukan pengawasan.
Menurutnya, organisasi membutuhkan eksekutor yang menjalankan program sekaligus monitor yang memastikan program tersebut berjalan sesuai arah yang telah ditentukan.
“Untuk memacu organisasi agar maju harus ada eksekutor sebagai pelaksana kegiatan dan monitor yang berfungsi sebagai pengawas organisasi,” ujarnya.
Ia mendorong Dewan Syuro untuk membagi tanggung jawab pengawasan terhadap bidang-bidang yang ada dalam kepengurusan sehingga setiap program dapat dipantau perkembangannya.
Nuryasin juga menyoroti bidang seni dan budaya yang menurutnya perlu mendapatkan perhatian lebih. Menurutnya, budaya Rifaiyah tidak cukup hanya dibicarakan dalam konteks seni, tetapi perlu dihidupkan dalam berbagai ruang kehidupan masyarakat.
“Budaya Rifaiyah dalam acara pernikahan, khitanan, kelahiran dan saat takziah juga perlu dibangkitkan. Karena itu, perlu ada pertemuan yang dapat memunculkan inisiatif untuk mencari solusi atau jalan keluar,” tutur K. Nuryasin yang juga pimpinan Pondok Pesantren Mambaul Hikmah Bantengan.
Ia juga memberikan sejumlah masukan terkait pelaksanaan batsul masail. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu ditempatkan pada ranting yang telah memiliki pemahaman keagamaan yang memadai agar pembahasan berjalan konstruktif dan tidak menimbulkan salah penafsiran.
Sementara untuk kegiatan selapanan, ia mendorong agar pelaksanaannya dapat menjangkau ranting-ranting kecil dengan dukungan dari tingkat daerah.
Baca Juga: 45 Pengurus PD Rifaiyah Temanggung Dilantik, Siap Jalankan Amanah dan Majukan Organisasi
Evaluasi Agenda Ziarah Menjadi Salah Satu Bahasan
Persoalan lain yang turut menjadi pembahasan dalam halaqoh adalah agenda ziarah yang selama ini menjadi salah satu kegiatan yang dinantikan jemaah Rifaiyah Temanggung.
Amin Rindhoi selaku penanggung jawab kegiatan ziarah PD Rifaiyah Temanggung menyampaikan perlunya komunikasi yang lebih baik dalam penentuan jadwal kegiatan agar agenda yang telah disusun di tingkat daerah dapat berjalan secara terkoordinasi.
Menurutnya, kegiatan ziarah pada awalnya merupakan inisiatif yang berkembang dari Temanggung dan telah menjadi bagian dari agenda silaturahmi jemaah.
“Inisiatif ziarah itu pada mulanya muncul dari Temanggung. Saat terjadi perubahan jadwal, kami dari Temanggung tidak dilibatkan. Hal ini menyebabkan agenda yang selama ini rutin dilaksanakan menjadi terganggu,” jelasnya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bersama agar koordinasi antara tingkat pusat dan daerah semakin baik.
“Ziarah merupakan jembatan silaturahmi yang selalu dinantikan jemaah. Program yang datang dari bawah perlu dikomunikasikan dengan baik ketika akan dilakukan perubahan,” katanya.
Dewan Syuro Sepakati Halaqoh Rutin Tiga Bulanan
Dari rangkaian pembahasan, halaqoh menghasilkan sejumlah kesepakatan sebagai langkah awal memperkuat peran Dewan Syuro dalam mengawal organisasi.
Pertama, dilakukan pembagian tanggung jawab pengawasan bidang di antara anggota Dewan Syuro. Langkah ini diharapkan membuat fungsi pengawasan terhadap program organisasi lebih terarah.
Kedua, halaqoh Dewan Syuro disepakati dilaksanakan secara rutin setiap tiga bulan atau triwulan dengan tempat pelaksanaan secara bergilir. Sebelum musyawarah, kegiatan akan diawali dengan tahlil dan kajian kitab Masailul Yaumiyah.
Ketiga, kegiatan rutin Selapanan Ahad Pahing didorong menjadi salah satu media dakwah yang dapat menjangkau ranting-ranting kecil. Untuk ranting yang memiliki keterbatasan, pelaksanaan kegiatan dapat memperoleh dukungan atau subsidi dari tingkat daerah.
Keempat, anggota Dewan Syuro diupayakan lebih aktif menghadiri kegiatan Batsul Masail Selasa Legi maupun Selapanan Ahad Pahing sebagai bagian dari fungsi pengawalan organisasi.
Kelima, mekanisme Batsul Masail akan dievaluasi, khususnya terkait kesempatan peserta dalam menyampaikan pendapat. Peserta diharapkan memperoleh ruang yang cukup untuk menyampaikan pemikiran secara utuh sebelum dilakukan tanggapan atau penyimpulan.
Halaqoh tersebut menjadi langkah awal membangun pola komunikasi yang lebih intensif antara Dewan Syuro dan pengurus harian PD Rifaiyah Temanggung.
Forum tersebut juga diharapkan menjadi ruang untuk menyatukan pengalaman para sesepuh dengan semangat pengurus generasi baru, sehingga nilai-nilai perjuangan dan ajaran Syekh Ahmad Rifa’i dapat terus dijaga sekaligus dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi dan umat.
Dengan forum yang berlangsung secara rutin, Dewan Syuro diharapkan tidak hanya menjadi simbol struktur organisasi, tetapi benar-benar hadir sebagai pemandu, pengawas, sekaligus penjaga kesinambungan arah perjuangan Rifaiyah Temanggung.
Penulis: Abdul Manan
Editor: Yusril Mahendra





