Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
No Result
View All Result
Rifa'iyah
No Result
View All Result
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen
Home Kolom

KH. Ahmad Rifa’i: Pendidikan Harus Membentuk Akhlak

Samsul Rozikin by Samsul Rozikin
September 25, 2026
in Kolom
0
KH. Ahmad Rifa’i: Pendidikan Harus Membentuk Akhlak
0
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Ada keganjilan yang seharusnya membuat dunia pendidikan kita gelisah. Sekolah semakin megah, kampus semakin ramai, gelar akademik semakin panjang, dan teknologi pembelajaran bergerak semakin cepat, tetapi persoalan watak manusia seperti tidak kunjung selesai. Kita mampu menghasilkan orang yang pandai menjelaskan moral, tetapi kepandaiannya belum tentu sanggup menahan tangan ketika kesempatan berbuat curang terbuka. Kita fasih berbicara tentang integritas, tetapi terkadang mendadak kehilangan suara ketika kejujuran menuntut pengorbanan. Karena itu, krisis pendidikan hari ini tidak cukup dibaca sebagai krisis pengetahuan. Boleh jadi kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih dalam, yakni krisis kemampuan manusia menguasai dirinya sendiri.

Sebenarnya anak-anak kita tidak kekurangan pengetahuan mengenai kebaikan. Sejak kecil mereka sudah diajari bahwa berbohong itu buruk, mencuri itu dosa, menghormati orang tua itu mulia, dan membantu sesama adalah perbuatan terpuji. Hampir semua mengetahui rumus dasarnya, bahkan dapat mengerjakan soal ujian tentang pendidikan moral dengan nilai yang sangat baik. Persoalan mulai muncul ketika pengetahuan itu harus berhadapan dengan kepentingan, keuntungan, kemarahan, gengsi, dan godaan. Di situlah jarak antara mengetahui kebaikan dan menjadi manusia baik terbuka lebar. Pendidikan yang hanya berhasil memenuhi kepala tetapi gagal membentuk kehendak akhirnya melahirkan manusia yang tahu banyak tentang kebajikan tanpa cukup keberanian untuk menjalaninya.

Di titik inilah tradisi pesantren mempunyai sesuatu yang penting untuk dibicarakan kembali. Pesantren sejak lama tidak memahami pendidikan semata-mata sebagai pekerjaan memasukkan informasi ke dalam kepala seorang santri. Ada wilayah lain yang lebih pelik, yaitu mendidik kehendak, membiasakan laku, menertibkan nafsu, membersihkan hati, dan membangun adab sampai kebaikan menjadi watak. Karena manusia tidak selalu melakukan keburukan akibat tidak mengetahui mana yang benar. Sering kali ia mengetahui kebenaran dengan sangat baik, tetapi dirinya terlalu lemah untuk mengikuti pengetahuan tersebut. Maka dalam bahasa pesantren, orang tidak cukup hanya ngerti, tetapi harus belajar nglakoni.

Pemikiran KH. Ahmad Rifa’i menjadi menarik ketika ditempatkan dalam percakapan ini. Pembentukan manusia dalam gagasannya terhubung dengan pembersihan hati melalui ibadah, pembiasaan, dan latihan, bukan semata-mata penyampaian konsep moral. Salah satu porosnya adalah pinuji wolu, delapan sifat terpuji yang terdiri atas zuhud, qanaah, tawakal, sabar, mujahadah, ridha, syukur, dan ikhlas. Delapan istilah tersebut mungkin terdengar sangat klasik bagi telinga kita yang akrab dengan pengajian dan kitab kuning. Namun sesuatu yang klasik tidak dengan sendirinya kehilangan daya gugahnya. Jangan-jangan kosakata yang dianggap lama itu justru sedang membongkar penyakit manusia modern dengan bahasa yang sangat tajam.

Ambillah zuhud sebagai pintu masuk. Dalam pemikiran KH. Ahmad Rifa’i, zuhud tidak diarahkan kepada sikap meninggalkan kehidupan dunia sama sekali, melainkan menjauhi yang haram serta mengarahkan hati dan ibadah kepada Allah. Di sini zuhud tidak selayaknya dibayangkan sebagai kemiskinan yang disengaja atau ketidakmampuan menikmati kehidupan. Zuhud justru dapat dibaca sebagai kemerdekaan batin di hadapan dunia. Manusia boleh mempunyai harta, jabatan, kendaraan, rumah, dan berbagai kenikmatan, tetapi semua itu tidak boleh mengambil alih pusat kesadarannya. Orang boleh memiliki dunia, namun dunia jangan sampai memiliki dirinya.

Baca Juga: Ketika Mesin Mulai “Berfatwa”: Ai Boleh Masuk Pesantren, tetapi Jangan Duduk di Kursi Kiai

Pemahaman itu terasa sangat relevan ketika manusia semakin mudah dinilai berdasarkan apa yang tampak. Barang yang dipakai, tempat yang dikunjungi, gelar yang dicantumkan, dan lingkaran pergaulan mudah berubah menjadi ukuran kehormatan. Bahkan kebaikan terkadang ingin ditonton agar masyarakat mengetahui bahwa seseorang sedang melakukan kebaikan. Pada keadaan seperti itu, zuhud bukan seruan untuk membenci kekayaan, melainkan keberanian mengoreksi ketergantungan manusia terhadap pengakuan. Seseorang bisa saja hidup sederhana sementara seluruh pikirannya dikuasai keinginan untuk dipuji. Karena itu, yang perlu dizuhudi bukan hanya benda, tetapi juga kerakusan ego yang terus meminta pengakuan.

Sesudah zuhud terdapat qanaah, sikap yang sering keliru diterjemahkan sebagai pasrah menerima keadaan. Dalam uraian pemikiran KH. Ahmad Rifa’i, qanaah berhubungan dengan ketenangan hati dalam mencari ridha Allah dan mengambil dunia sebatas kebutuhan yang menunjang ketaatan serta menjauhkan manusia dari kemaksiatan. Jadi qanaah bukan ideologi kemiskinan dan bukan pula penghalang seseorang bekerja keras. Ia adalah pendidikan mengenai batas. Manusia tetap boleh maju, membangun usaha, memperoleh kekayaan, mempunyai jabatan, dan meraih prestasi. Tetapi setelah semua itu dikejar, ada pertanyaan yang tidak boleh hilang dari hati: kapan kita merasa cukup?

Manusia yang kehilangan kemampuan merasa cukup pada akhirnya akan terus merasa miskin meskipun hartanya bertambah. Inilah paradoks kerakusan: ia tidak selalu lahir dari kekurangan, tetapi sering tumbuh karena keinginan tidak pernah diajari berhenti. Dari sini qanaah mempunyai konsekuensi sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar ketenangan batin pribadi. Orang yang mengetahui batas akan lebih sulit diperbudak oleh keinginan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia tidak perlu menukar harga dirinya hanya untuk menambah apa yang sebenarnya sudah berlebihan. Maka sebelum berbicara panjang mengenai pemberantasan kerakusan, pendidikan mestinya terlebih dahulu mengajarkan manusia bagaimana mengucapkan kata yang sederhana tetapi sangat berat: cukup.

Kemudian kita berjumpa dengan sabar. Dalam pemikiran KH. Ahmad Rifa’i, sabar mencakup kemampuan menghadapi kesulitan dalam menjalankan ibadah dan kewajiban, menjauhi kemaksiatan, serta menghadapi musibah. Sabar dengan demikian bukan kepasrahan orang kalah, apalagi alasan untuk membenarkan ketidakadilan. Ia merupakan kemampuan menguasai diri ketika keadaan tidak berjalan sesuai kehendak. Orang yang belum mempunyai ketahanan batin mudah meledak, mudah membalas, dan mudah melihat perbedaan sebagai penghinaan. Sebaliknya, kesabaran memberi manusia ruang antara rangsangan dan tindakan sehingga akal serta moral masih mempunyai kesempatan untuk berbicara.

Dunia pendidikan seharusnya serius terhadap perkara ini. Anak yang memperoleh nilai tinggi tetapi tidak sanggup menerima kegagalan berarti masih mempunyai pekerjaan besar dalam pembentukan dirinya. Santri yang lancar membaca kitab tetapi mudah merendahkan kawannya juga belum selesai mengaji. Seorang akademisi yang piawai mempertahankan argumentasi tetapi tidak mampu mendengarkan pendapat berbeda belum tentu menunjukkan kematangan ilmu. Pengetahuan yang tumbuh tanpa pengendalian diri sangat mudah berubah menjadi kesombongan intelektual. Dan kesombongan yang sudah dipersenjatai kecerdasan sering kali jauh lebih sulit dinasihati daripada ketidaktahuan.

Sementara itu, tawakal mengajarkan hubungan yang menarik antara usaha manusia dan keterbatasannya. Tawakal pada pemikiran KH. Ahmad Rifa’i berhubungan dengan penyerahan kepada Allah dalam menjalankan kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, bukan sikap pasif tanpa ikhtiar. Di sinilah tawakal dapat membebaskan manusia dari dua penyakit sekaligus, yaitu kesombongan ketika berhasil dan kehancuran diri ketika gagal. Manusia perlu bekerja sebaik-baiknya tanpa menganggap dirinya sebagai penguasa mutlak atas hasil. Ia harus berusaha, tetapi juga menyadari batas kemampuannya sendiri. Kesadaran semacam itu justru melahirkan keberanian yang lebih sehat daripada keyakinan bahwa segala sesuatu dapat dikendalikan manusia.

Setelah itu terdapat mujahadah, dan justru di sinilah pendidikan karakter menemukan medan sesungguhnya. Mujahadah diterangkan sebagai kesungguhan menjalankan perintah Allah, menunaikan kewajiban, menjauhi kemaksiatan, serta berjuang melawan hawa nafsu dengan kemampuan lahir dan batin. Pendidikan kita terlalu sering merasa selesai setelah menjelaskan nilai, seakan-akan mengetahui kejujuran otomatis membuat seseorang menjadi jujur. Padahal kejujuran kadang mahal, berlaku adil dapat menghilangkan keuntungan, mengakui kesalahan bisa meruntuhkan gengsi, dan menolak yang haram dapat menutup peluang yang menggiurkan. Nilai baru menunjukkan kualitasnya ketika seseorang harus membayar harga untuk mempertahankannya. Karakter bukan terbentuk ketika nilai diterangkan, tetapi ketika nilai bertemu ujian.

Di belakangnya terdapat ridha, yang dalam kerangka pemikiran KH. Ahmad Rifa’i berkaitan dengan penerimaan terhadap ketetapan Allah, hukum syariat, kewajiban ketaatan, serta keadaan yang menimpa manusia. Ridha tidak semestinya dijadikan dalih untuk membiarkan kemalasan, keterbelakangan, atau ketidakadilan. Ia bekerja pada wilayah batin, yakni kesanggupan menerima sesuatu yang memang tidak lagi berada dalam kemampuan manusia untuk mengubahnya. Dengan ridha, seseorang tetap berikhtiar tanpa terus-menerus berperang dengan kenyataan yang sudah terjadi. Ini penting karena tidak semua luka dapat diselesaikan dengan kemenangan. Sebagian harus diselesaikan dengan penerimaan agar manusia dapat melanjutkan kehidupannya tanpa dikuasai kepahitan.

Lalu ada syukur, kata yang sangat sering diucapkan tetapi tidak selalu dipahami konsekuensinya. Dalam uraian KH. Ahmad Rifa’i, syukur berkaitan dengan mengetahui nikmat Allah, memuji-Nya, lalu membawa nikmat itu kepada ketaatan. Karena itu syukur tidak selesai dengan ucapan alhamdulillah. Orang yang mensyukuri ilmu seharusnya membuat ilmunya bermanfaat, sedangkan orang yang mensyukuri kekuasaan semestinya menggunakan kekuasaan secara bertanggung jawab. Kekayaan yang disyukuri tidak sewajarnya menjadikan seseorang semakin buta terhadap kesusahan sesamanya. Syukur pada akhirnya adalah kesediaan mempertanggungjawabkan nikmat.

Pada ujung perjalanan itu terdapat ikhlas, suatu wilayah yang paling sunyi sekaligus paling sulit diukur. Ikhlas dalam pemikiran KH. Ahmad Rifa’i berhubungan dengan membersihkan hati agar tujuan ibadah tertuju kepada Allah dan bukan kepada selain-Nya. Tidak ada ijazah yang dapat memastikan seseorang ikhlas dan tidak ada gelar akademik yang dapat membuktikan kebersihan niat manusia. Justru karena itulah ikhlas terasa penting pada zaman ketika hampir seluruh perbuatan dapat dipertontonkan. Amal dapat diumumkan, kesalehan dapat dikemas, bahkan kerendahan hati terkadang dapat dipentaskan supaya orang mengetahui bahwa kita rendah hati. Pesantren mengingatkan sesuatu yang sederhana sekaligus radikal: tidak setiap kebaikan membutuhkan penonton.

Jika delapan sifat tadi dibaca secara utuh, terlihat bahwa pendidikan karakter bukan pekerjaan sehari dua hari. Pembentukan akhlak dalam pemikiran KH. Ahmad Rifa’i terkait dengan pembersihan hati melalui ibadah, pembiasaan, latihan, dan perjuangan melawan hawa nafsu hingga sifat-sifat terpuji menjadi watak. Di sinilah terdapat perbedaan mendasar antara informasi moral dan karakter. Informasi dapat diberikan melalui satu pertemuan, sedangkan karakter membutuhkan laku yang terus diasah. Orang dapat memahami definisi kejujuran hari ini, tetapi menjadi manusia jujur memerlukan perjalanan panjang. Sekali lagi, pendidikan pesantren tidak berhenti pada ngerti, karena manusia harus sampai pada nglakoni.

Karena itu, jangan terlalu lekas membanggakan keberhasilan pendidikan hanya karena seorang anak mempunyai angka sempurna di rapornya. Tanyakan apakah ia tetap jujur ketika guru tidak berada di ruangan, apakah ia menghormati orang yang tidak mempunyai kedudukan, dan apakah ia mampu mengakui kesalahan tanpa sibuk mencari kambing hitam. Jangan terlalu cepat kagum kepada santri hanya karena kitab yang dibacanya semakin banyak. Perhatikan bagaimana bahasanya kepada orang tua, gurunya, kawannya, dan mereka yang tidak dapat memberikan keuntungan apa pun kepadanya. Jangan pula terlalu mudah terpesona kepada orang yang fasih berbicara tentang agama. Lihatlah bagaimana keilmuannya bertahan ketika berhadapan dengan uang, kekuasaan, popularitas, dan kepentingan pribadi.

Tradisi KH. Ahmad Rifa’i akhirnya mengingatkan bahwa tugas pendidikan tidak semata-mata mempersiapkan manusia menaklukkan dunia. Ada wilayah yang lebih dekat dan justru lebih sulit ditaklukkan, yakni dirinya sendiri. Teknologi dapat berubah, kurikulum dapat berganti, dan metode pembelajaran boleh semakin mutakhir, tetapi manusia tetap membawa ambisi, amarah, ketakutan, keserakahan, ego, dan keinginan memperoleh pengakuan. Itulah sebabnya pendidikan batin tidak pernah benar-benar menjadi barang kuno. Kemajuan peradaban yang tidak disertai kematangan manusia bahkan dapat menghasilkan persoalan baru. Kecerdasan adalah kekuatan, dan setiap kekuatan akan menjadi berbahaya ketika berada di tangan karakter yang rusak.

Mungkin kita memang tidak kekurangan orang pintar. Yang jauh lebih langka adalah orang yang ketika mempunyai dunia tetap memiliki zuhud, ketika memperoleh banyak tetap mempunyai qanaah, ketika mengalami kesulitan tetap mempunyai sabar, dan setelah berikhtiar masih mempunyai tawakal. Kita membutuhkan manusia yang mampu bermujahadah saat kepentingan menggoda, ridha ketika menghadapi sesuatu di luar kuasanya, bersyukur tanpa menjadi rakus, dan berbuat baik tanpa terus-menerus menagih tepuk tangan. Itulah manusia yang tidak melarikan diri dari dunia, tetapi juga tidak membiarkan dirinya diperbudak dunia. Pesantren pada akhirnya bukan hanya tempat orang belajar membaca kitab, melainkan ruang panjang untuk mendidik manusia agar mampu membaca dirinya sendiri. Di situlah pendidikan karakter menemukan maknanya yang paling dalam.

Maka pertanyaan paling tidak nyaman patut diajukan kepada sekolah, kampus, pesantren, bahkan kepada kita sendiri. Jika pendidikan berhasil membuat generasi muda semakin cerdas tetapi gagal mengajarkan mereka menguasai keserakahan, ego, amarah, dan hawa nafsu, apakah kita benar-benar sedang mendidik manusia? Atau jangan-jangan kita hanya sedang memberikan perangkat intelektual yang semakin canggih kepada keinginan yang tidak pernah berhasil ditertibkan? Pertanyaan itu lebih mendesak daripada ranking kelas dan jauh lebih serius daripada angka pada lembar ujian. Sebab, orang yang tidak mengetahui mungkin melakukan kesalahan karena keterbatasannya. Tetapi orang pintar yang kehilangan akhlak dapat menemukan seribu argumentasi untuk membuat keburukan tampak seperti kebenaran.

Referensi

  1. Atamimi, Abdul Basit. “Mengkaji Pemikiran Tasawuf Kiai Ahmad Rifa’i Kalisalak dalam Kitab Tarajumah: Analisis Tarekat sebagai Gerakan Perlawanan Kolonial Belanda.” An-Nufus: Jurnal Kajian Islam, Tasawuf dan Psikoterapi 2, no. 1 (2020).
  2. Djamil, Abdul. Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran dan Gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak. Yogyakarta: LKiS, 2001.
  3. Fauzan, Aris. Dunia Sufisme Islam. Yogyakarta: Samudra Biru, 2018.
  4. Mu’tamar, Abdul Djamil, dan Nanang Nurcholis. “Pendidikan Karakter dalam Pandangan KH. Akhmad Rifa’i.” Jurnal Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (JASIKA) 4, no. 1 (2024): 76–94. DOI: https://doi.org/10.18196/jasika.v4i1.118.
  5. Rifa’i, Ahmad. Abyân al-Hawâij li al-Tha’ah fî Bayân ‘Ilmi al-Tsalâtsah al-Wâjibah. Jilid V–VI.
  6. Rifa’i, Ahmad. Husnu al-Mithâlab. Kendal: tanpa penerbit, tanpa tahun.
  7. Rifa’i, Ahmad. Ri’âyatu al-Himmah. Juz II.
  8. Sya’ban, A. Ginanjar. Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara. Pustaka Compass, 2017.1.

Penulis: Samsul Rozikin
Editor: Yusril Mahendra

Tags: delapan sifat terpujiKH. Ahmad RifaiPendidikan Akhlakpendidikan karakterpesantren
Previous Post

Perpusnas Tetapkan Karya KH. Ahmad Rifa’i sebagai Ingatan Kolektif Nasional 2026

Samsul Rozikin

Samsul Rozikin

Mahasantri Ma'had Aly At-Tarmasi Takhassus Fiqh wa Ushuluhu, PIP Tremas Pacitan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Sejarah Rifa’iyah dan Organisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gus Sakho, Gemilang Prestasi di Al-Azhar, Suluh Inspirasi Generasi Rifa’iyah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rukun Islam Satu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • NU dan Rifa’iyah: Persamaan, Perbedaan, dan Hubungan Dakwah di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah Organisasi Rifa’iyah dan Ummahatur Rifa’iyah (UMRI)

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Rifa'iyah

Menjaga Tradisi, Menyongsong Masa Depan

Kategori

  • Bahtsul Masail
  • Berita
  • Cerpen
  • Keislaman
  • Khutbah
  • Kolom
  • Nadhom
  • Nasional
  • Sejarah
  • Tokoh
  • Video

Sejarah

  • Rifa’iyah
  • AMRI
  • UMRI
  • LFR
  • Baranusa

Informasi

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Visi Misi
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Nasional
  • Kolom
  • Nadhom
  • Tokoh
  • Bahtsul Masail
  • Khutbah
  • Sejarah
  • Video
  • Cerpen

© 2026 Rifaiyah.or.id. All rights reserved.