| Acara | Majelis Ta’lim Selapanan Selasa Pon ke-404 |
| Penyelenggara | Pimpinan Daerah (PD) Rifa’iyah Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pemalang |
| Tuan rumah | Ranting Rifa’iyah Kramatsari, Masjid Al-Mukarromah |
| Waktu | Senin malam, 12 Oktober 2026 M / 2 Jumadilawal 1448 H (malam Selasa Pon) |
| Pembaca kitab | KH. Ainur Rofiq, membaca Husnul Mitholab karya KH. Ahmad Rifa’i |
| Mauidhah hasanah | KH. Khoirun Nazi, Pimpinan Daerah Rifa’iyah Semarang |
“Kebenaran yang tak ditata akan dikalahkan oleh kebatilan yang rapi.” — gema pesan yang paling lama tinggal di telinga jemaah malam itu.
Prolog: Malam yang Berputar Setiap Tiga Puluh Lima Hari
Ada malam-malam yang tak perlu diumumkan keras-keras, sebab hati orang-orang telah menandainya jauh hari. Malam Selasa Pon adalah salah satunya. Dalam penanggalan Jawa, tujuh hari bertemu lima pasaran setiap tiga puluh lima hari sekali, dan bagi keluarga besar Rifa’iyah di tanah Pekalongan hingga Pemalang, putaran itu bukan sekadar urusan kalender. Ia adalah jadwal pulang: pulang ke majelis, pulang ke kitab, pulang kepada para guru, dan pada akhirnya pulang kepada diri sendiri menuju Allah SWT.
Senin malam, 12 Oktober 2026, bertepatan dengan 2 Jumadil awal 1448 Hijriah, putaran itu berlabuh di Kramatsari. Di Masjid Al-Mukarromah, Majelis Ta’lim Selapanan Selasa Pon genap pada hitungan yang keempat ratus empat. Bila angka itu ditimbang dengan jari kalender, empat ratus empat putaran dengan jarak tiga puluh lima hari, majelis ini telah berulang kali menyalakan pelitanya selama lebih dari tiga puluh delapan tahun, melintasi pergantian zaman dan pergantian generasi.
Tiga wilayah berhimpun malam itu dalam satu naungan: Pimpinan Daerah Rifa’iyah Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pemalang. Ranting Kramatsari, selaku tuan rumah, menyambut para kiai sepuh, para pimpinan daerah, dan jemaah dari berbagai ranting. Di antara yang hadir tampak KH. Abdul Basit Al-Hafizh dari Kabupaten Pekalongan, H. Al-Mufid dari Kota Pekalongan, KH. Wahyono dari Pemalang, serta seorang tamu dari Semarang yang malam itu diminta menyampaikan nasihat, KH. Khoirun Nazi, Nd. Sementara itu, KH. Ainur Rofiq duduk di hadapan kitab karya KH. Ahmad Rifa’i untuk dibaca dan diurai.
I. Pembuka: Fatihah, Selawat, dan Susunan Malam
Malam itu dibuka sebagaimana tradisi memuliakan sebuah majelis: dengan selawat. Sebelum pembawa acara membacakan susunan, suara jemaah telah lebih dulu menyambut Nabi dalam gelombang yang naik dan turun, diiringi tabuhan, hingga ruang masjid terasa hangat oleh kerinduan. Selawat di majelis ini bukan hiasan pembuka. Ia merupakan benang yang menjahit satu segmen dengan segmen berikutnya, dilantunkan lagi di sela sambutan, dan kembali merapatkan saf ketika malam kian larut.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, dan berkah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga beliau, dan kepada seluruh sahabatnya.
–Redaksi selawat yang dilantunkan jemaah
Pembawa acara lalu merinci urutan malam itu. KH. Amrudin Nasihun mendapat amanah membuka majelis, dan Al-Fatihah dibacakan sebagai kunci pembuka, sebagaimana adab para ahli ilmu. Setelahnya mengalir lima mata acara, yang dapat dilihat dalam tabel berikut.
| No | Acara | Petugas |
| 1 | Pembukaan dan pembacaan Al-Fatihah | KH. Amrudin Nasihun |
| 2 | Pembacaan kitab Husnul Mitholab | KH. Ainur Rofiq |
| 3 | Sambutan pertama, mewakili tuan rumah | Ketua panitia sekaligus pimpinan Ranting Rifa’iyah Kramatsari |
| 4 | Sambutan kedua, mewakili PD Rifa’iyah Kabupaten dan Kota Pekalongan serta Kabupaten Pemalang | KH. Abdul Basit Al-Hafizh |
| 5 | Mauidhah hasanah | KH. Khoirun Nazi, Nd |
| 6 | Doa penutup | Salah seorang kiai (nama dikonfirmasi panitia) |
II. Pembacaan Kitab: Ketika Hati Bersaksi, Lahir Menjadi Bukti
Giliran KH. Ainur Rofiq. Sebelum membuka halaman, beliau menunduk kepada para pengarang: kepada para mushannif dan mu’allif, khususnya Syekh Ibrahim al-Bajuri dan Syekh Ibrahim al-Laqqani rahimahumallahu ta’ala, dan tentu kepada KH. Ahmad Rifa’i bin Muhammad, penyusun kitab yang dibaca malam itu. Al-Fatihah dikirimkan. Lalu pelan-pelan, dalam tutur Jawa yang bersahaja, beliau mengurai sebuah pertanyaan yang tampak sederhana tetapi dalam sekali. Bagaimana manusia menilai iman sesamanya, sedangkan iman bersemayam di tempat yang tak seorang pun dapat menjenguknya?
Iman di dalam, tanda di luar
Iman, jelas beliau, adalah tasdiq, pembenaran yang tertanam di dalam hati. Karena ia urusan batin, ia tak kasatmata. Padahal kehidupan dunia membutuhkan kepastian: siapa yang disalati ketika wafat, siapa yang dikuburkan di pemakaman kaum Muslimin, siapa yang diperlakukan sebagai saudara seiman. Maka dibutuhkanlah tanda zahir yang menjadi penanda bagi hukum-hukum duniawi itu, dan tanda itu adalah ikrar dua kalimat syahadat.
Beliau memaparkan dua keadaan yang saling berkebalikan. Pertama, orang yang hatinya membenarkan tetapi tak pernah ada bukti lahir, tak mengucap syahadat: ia dihukumi mukmin di sisi Allah, namun tidak diperlakukan sebagai mukmin di hadapan manusia. Hukum-hukum zahir tak berlaku atasnya; bila meninggal, ia tidak disalati dan tidak dimakamkan di pemakaman Muslim. Kedua, orang munafik yang lisannya mengucap syahadat sementara hatinya tak membenarkan: di sisi Allah ia bukan mukmin, tetapi di dunia ia diperlakukan sebagaimana Muslim lainnya, hingga ketika wafat pun ia disalati. Karena itulah para ulama menetapkan bahwa ikrar menjadi syarat berlakunya hukum-hukum duniawi, pendapat yang di antaranya dipegang oleh Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
Kisah Mirdas dan Usamah
Dalilnya dibawakan dari Al-Qur’an, surah An-Nisa’ ayat 94, yang menurut riwayat dari Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma turun berkenaan dengan seorang lelaki dari Bani Murrah bernama Mirdas bin Nahik.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا ضَرَبْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَبَيَّنُوا وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَىٰ إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا
Wahai orang-orang beriman, apabila kalian berangkat di jalan Allah, maka telitilah dengan saksama, dan janganlah kalian berkata kepada orang yang menyampaikan salam kepada kalian, “Engkau bukan orang beriman.” (QS. An-Nisa’: 94, petikan)
Kisahnya, sebagaimana dituturkan malam itu, begini. Di sebuah kampung kecil, hanya Mirdas seorang yang beriman; yang lain belum. Ia sedang menggembala kambing bersama orang-orang sekampungnya ketika dari kejauhan terdengar derap kuda sebuah rombongan. Seluruh penduduk kampung lari tunggang-langgang, sebab mereka takut yang datang adalah pasukan kaum Muslimin. Mirdas tidak ikut lari. Ia beriman, dan ia yakin yang datang adalah pasukan mukminin. Namun makin dekat rombongan itu, keyakinannya mulai goyah: jangan-jangan yang datang justru orang kafir, dan bila ia diam saja, ia akan dibunuh. Maka ia menggiring kambing-kambingnya dan bersembunyi.
Ketika rombongan tiba, terdengar takbir bersahut-sahutan di antara mereka, dan lenyaplah kekhawatiran Mirdas. Ia keluar dengan hati tenang. Di titik inilah tragedi terjadi: Usamah bin Zaid, yang berada dalam rombongan itu, menyergapnya dan membunuhnya, lalu membawa kambing-kambingnya, padahal Mirdas telah mengucapkan kalimat tauhid.
Kabar itu sampai kepada Rasulullah SAW. Beliau sangat kecewa. Ketika Usamah menghadap, beliau menegurnya: mengapa membunuh orang yang telah mengucapkan kalimat keimanan? Usamah beralasan bahwa orang itu mengucapkannya semata karena takut dibunuh. Maka sabda Rasulullah SAW menutup perkara itu dengan satu pertanyaan yang tak mudah dilupakan. Usamah pun memohon agar Rasulullah memintakan ampun kepada Allah baginya.
أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا
Mengapa tidak engkau belah saja hatinya, supaya engkau tahu apakah ia mengucapkannya (karena takut) atau tidak? (HR. Muslim, dari Usamah bin Zaid)
Pelajarannya sejernih embun subuh: kita diperintahkan menimbang manusia dengan yang tampak, dan menyerahkan yang tersembunyi kepada Dia Yang Maha Mengetahui isi dada.
Sebuah ungkapan yang dicari asal-usulnya
Beliau lalu menunjuk sebuah ungkapan yang sangat dikenal di kalangan pesantren dan disebut dalam Fathul Mu’in beserta syarahnya, I’anatuth Thalibin.
أُمِرْتُ أَنْ أَحْكُمَ بِالظَّاهِرِ وَاللَّهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرَ
Aku diperintahkan menghukumi berdasarkan yang tampak, sedangkan rahasia batin diurus oleh Allah. (Ungkapan masyhur, lihat catatan penyusun)
Dengan jujur beliau menyampaikan catatan keilmuannya: sebagian pakar hadis, seperti al-Hafizh al-’Iraqi dan al-Mizzi, menyebut bahwa lafaz seperti itu tidak ditemukan asalnya sebagai hadis. Namun maknanya benar, sebab ia disadur secara makna dari hadis lain, dan hadis itu ada.
إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أُنَقِّبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا أَشُقَّ بُطُونَهُمْ
Sungguh aku tidak diperintahkan untuk menyelidiki isi hati manusia, dan tidak pula membelah perut mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pesan yang sama datang dari ruang pengadilan Rasulullah SAW. Ketika dua pihak bersengketa dan salah satunya lebih fasih bersilat lidah, putusan beliau mengikuti yang terdengar. Tetapi lihatlah betapa halus peringatan yang menyertainya:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، وَإِنَّكُمْ تَخْتَصِمُونَ إِلَيَّ، وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ، فَأَقْضِيَ لَهُ عَلَى نَحْوِ مَا أَسْمَعُ، فَمَنْ قَضَيْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ شَيْئًا فَلَا يَأْخُذْهُ، فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ
Aku hanyalah manusia biasa. Kalian mengadukan perkara kepadaku, dan boleh jadi sebagian kalian lebih pandai menyampaikan hujahnya daripada yang lain, sehingga aku memutuskan sesuai yang kudengar. Maka siapa yang kuputuskan mendapat sebagian hak saudaranya, janganlah ia mengambilnya, sebab sesungguhnya aku memotongkan baginya sepotong api neraka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ummu Salamah)
Beliau menambahkan sebuah riwayat lain, yang menurut penuturannya tercantum dalam Tafsir Ibnu Katsir dari Imam Ahmad. Dua orang bersengketa soal warisan yang telah lama ditinggalkan orang tua mereka, sepuluh tahun tak dibahas, dan tak satu pun membawa bukti. Rasulullah SAW menyampaikan peringatan yang sama. Dan apa yang terjadi? Kedua orang itu menangis. Yang satu takut kalau-kalau ia keliru, yang lain pun gentar. Rasulullah SAW lalu menuntun mereka: bagilah dengan adil, kemudian masing-masing mengikhlaskan kepada yang lain.
Di hadapan pengadilan Nabi pun, orang menangis bukan karena kalah, melainkan karena takut menggenggam bara.
Benar di lahir, benar di batin
Maka, tegas beliau, ada dua timbangan yang berbeda. Ketika menimbang orang lain, kita memakai yang tampak. Tetapi ketika menimbang diri sendiri, kita wajib berusaha benar di luar dan di dalam: bersungguh-sungguh kepada Allah, menunaikan yang wajib, menjauhi maksiat. Dan bila tergelincir? Syariat telah menyiapkan jalan pulang, yaitu tobat. Kemaksiatan yang segera disusul tobat tidak memutus istiqamah seseorang, sebab ia tetap berada di jalur yang digariskan syariat.
Beliau mengutip Al-Hikam: tak perlu cemas atas apa pun yang menimpa, sebab setiap keadaan sudah ada aturannya. Bila senang, bersyukurlah; bila susah, bersabarlah; bila taat, sadarilah itu karunia Allah; bila maksiat, bertobatlah. Yang sungguh mengkhawatirkan adalah orang yang tak mampu menyikapi keadaan dengan benar: mendapat nikmat malah dipakai untuk maksiat, mendapat musibah malah mengamuk.
Bahaya yang paling licin, lanjut beliau, adalah maksiat yang telah menjadi kebiasaan. Ia tak lagi terasa sebagai dosa. Judi daring disebut sebagai contoh yang menjerat zaman ini: begitu nikmat dirasa, begitu biasa dianggap, hingga tumbuh jengkel pada aturan syariat yang melarangnya. Di titik itulah, peringatan beliau, pintu kekufuran terbuka, karena orang mulai menghalalkan yang haram di dalam hatinya.
Kajian ditutup dengan ketegasan yang menenteramkan sekaligus menggugah: iman orang yang belum tekun beribadah tetap dihukumi sah, sedangkan ibadah orang yang tidak beriman tak sah dan tak bermanfaat di akhirat. Karena itu, pesannya, selama masih ada kesempatan hidup, perbaikilah diri zahir dan batin, dan jagalah iman supaya kelak bermanfaat di akhirat dengan husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin.
III. Sambutan: Dari Besek Sampai Barakah
Tiga alasan orang pergi mengaji
Sambutan pertama datang dari ketua panitia yang juga pimpinan Ranting Kramatsari. Ia membuka dengan rasa syukur dan ucapan selamat datang, lalu berterima kasih kepada segenap jemaah Masjid Al-Mukarromah, musala-musala sekitar, dan masyarakat yang telah membantu dengan harta, tenaga, dan pikiran sehingga selapanan yang keempat ratus empat dapat berlangsung. Ia juga memohon maaf bila tempat terasa sempit dan penyambutan kurang berkenan di hati hadirin.
Lalu dengan jenaka yang menyingkap kebenaran, ia memetakan orang-orang yang datang ke pengajian menjadi tiga golongan. Golongan pertama datang karena, daripada menganggur di rumah pada malam Selasa, lebih baik berangkat, apalagi pulangnya dapat besek dan jajanan. Golongan kedua datang karena memang senang mengaji, selalu hadir, tak pernah absen. Golongan ketiga datang karena senang mengaji dan ingin mengamalkan apa yang dikaji.
Golongan pertama baik, golongan kedua lebih baik, dan golongan ketiga adalah yang paling baik. Semoga kita termasuk yang ketiga: tahu ilmunya, sanggup mengamalkannya.
Doa itu diamini seluruh jemaah. Dan siapa tahu, di antara besek yang dibawa pulang malam itu ada yang diam-diam menggeser seseorang dari golongan pertama menuju golongan ketiga.
Sambutan atas nama tiga pimpinan daerah
Sambutan kedua disampaikan KH. Abdul Basit Al-Hafizh, mewakili PD Rifa’iyah Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, dan Kabupaten Pemalang. Gayanya cair dan penuh canda, diselingi guyonan tentang pengeras suara dan tentang jemaah, namun intinya jelas: cintailah mengaji, harapkan barakah dari mengaji, dan jangan berhenti pada mengaji tetapi sampai pada mengamalkan. Sambutan itu mengalir begitu saja menjadi selawat bersama, dan jemaah menyambutnya dengan suara yang makin penuh.
Baca Juga: Reportase Inspiratif: Membaca Iman dengan Titik dan Koma yang Benar
IV. Mauidhah Hasanah: KH. Khoirun Nazi, Nd
Ketika KH. Khoirun Nazi naik ke mimbar, suasana berganti. Beliau berbicara dalam campuran bahasa Jawa dan Indonesia, jenaka tetapi menghunjam, dan sepanjang uraiannya mengajak jemaah bergerak dari tawa menuju renungan.
Pekalongan, barometer yang berwajah muda
Beliau membuka dengan pengakuan jujur. Pekalongan, katanya, adalah barometer Rifa’iyah se-Indonesia. Dan yang membuatnya paling bangga malam itu adalah wajah-wajah di hadapannya: banyak pemuda yang hadir. Di tempat asalnya, Semarang, majelis seperti ini kebanyakan dihadiri orang-orang yang sudah sepuh. Inilah yang membanggakan, katanya, inilah yang sungguh menggembirakan bagi Rifa’iyah. Dengan husnuzan, beliau mengaku yakin bahwa orang-orang yang gemar mengaji seperti jemaah Pekalongan ini kelak termasuk penghuni surga, insya Allah.
Matahari dunia, pelita di atas cahaya
Selawat dan salam beliau haturkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW, yang kepada syafaatnya kita selalu berharap. Tanpa Nabi, tak seorang pun dari kita mengenal jalan pulang. Beliau mengajak jemaah bersama-sama melantunkan selawat, dan masjid pun bergetar sekali lagi: Nabi Muhammad, mataharinya dunia; purnama di tengah malam yang gelap gulita; pelita yang cahayanya berada di atas cahaya.
Hati kecil yang tahu
Dengan jenaka yang menembus, beliau mengingatkan bahwa manusia bukan malaikat. Siapa yang tak pernah tergelincir? Namun beliau yakin, meski sesekali mata terpandang pada yang tak semestinya, hati kecil setiap orang yang hadir malam itu tahu persis mana yang maksiat. Hati kecil itulah modal, dan majelis seperti inilah tempat ia dirawat.
Lalu mengalirlah riwayat-riwayat tentang kemuliaan majelis ilmu, sebagaimana beliau kutip. Memandang seorang alim dengan gembira, sesaat saja, kata beliau, menjadikan Allah menciptakan malaikat yang memohonkan ampun baginya hingga hari kiamat. Duduk bersama ulama sejam lamanya, tutur beliau, lebih besar ganjarannya daripada memerdekakan seribu budak, menyedekahkan seribu kuda untuk jihad, berkurban seribu sapi, bahkan beribadah seribu tahun. Dengan canda ia menambahkan: bagi yang belum mampu berkurban, berangkatlah mengaji.
Cukuplah itu sebagai balasan
Dari riwayat-riwayat itu beliau menukik pada sebuah kata hikmah yang tenang dalam Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari:
كَفَى مِنْ جَزَائِهِ إِيَّاكَ عَلَى الطَّاعَةِ أَنْ رَضِيَكَ لَهَا أَهْلًا
Cukuplah sebagai balasan-Nya atas ketaatanmu, bahwa Dia rela menjadikanmu layak untuk ketaatan itu. (Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari, Al-Hikam)
Apabila seseorang telah mendapat ridha Allah dalam ketaatannya, ia sudah menjadi orang yang paling beruntung. “Sampeyan tekan kene,” kata beliau, bahwa Anda bisa sampai di sini malam ini adalah keberuntungan luar biasa. Lalu ia mengajak jemaah menghitung: berapa banyak orang yang punya uang untuk membeli bensin tetapi tak sampai ke majelis ini? Berapa yang punya mobil, namun tak tiba? Berapa pula yang tak punya kendaraan, tetapi justru tiba? Pada alasan-alasan yang beragam itulah tampak betapa Allah menghargai langkah yang tampak sepele. Setiap orang yang taat dianggap baik oleh-Nya, apakah ia berangkat bersama santri, bersama grup rebana, atau sekadar menemani kawan.
Seikat lidi
Dari sini beliau berpindah pada pesan yang paling beliau tekankan malam itu. Sejak masa nyantri, ketika gerakan organisasi Rifa’iyah mulai digencarkan, beliau dipesan gurunya untuk ikut menggerakkannya, dan hingga hari ini beliau mengaku masih setia. Alasannya, katanya, sederhana dan menyentuh.
Bayangkan lidi-lidi sapu. Sebatang lidi mudah dipatahkan, tetapi seikat lidi tak bisa ditaklukkan. Namun jika lidi-lidi itu tak ditali, mereka kocar-kacir, berserakan ke mana saja. Kalau ingin pulang, pulang ke mana? Kalau ingin berkumpul, siapa yang mengumpulkan? Ketika gejolak datang dengan segala rupa, wadah organisasi inilah yang menjadi tempat pulang dan penuntas persoalan Rifa’iyah di seluruh Indonesia. Karena itu, pesannya, jangan sekali-kali menganggap sepele anak-anak ranting, pengurus, dan jam’iyah.
الْحَقُّ بِلَا نِظَامٍ يَغْلِبُهُ الْبَاطِلُ بِنِظَامٍ
Kebenaran yang tak tertata akan dikalahkan oleh kebatilan yang tertata. (Ungkapan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali, sebagaimana disampaikan penceramah)
Beliau menanggapi sebuah suara yang kerap terdengar: yang penting salat dan zakat, tak perlu repot berorganisasi. Jawabannya berlapis. Pertama dari Al-Qur’an:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas. (QS. Ali ‘Imran: 105, petikan)
Kedua, dari Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu:
لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ
Tidak ada Islam tanpa jemaah. (Atsar Sayyidina Umar bin Khattab, sebagaimana dikutip penceramah)
Ketiga, dari sejarah. Di zaman Nabi sudah ada tatanan, hanya belum berbentuk formal. Rasulullah SAW adalah pemimpinnya. Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab bertugas sebagai penulis dan sekretaris. Bilal bin Rabah dipercaya sebagai bendahara. Khalid bin Walid memegang panglima pasukan. Kebaikan yang ditata, bahkan oleh generasi terbaik, tak pernah dianggap hina.
Beliau lalu mengutip Imam as-Suyuthi mengenai makna ayat tadi: di antara bentuk perusakan agama adalah menyurutkan semangat orang untuk hadir dalam kegiatan seperti selapanan, manakiban, rajaban, dan selawatan. Beliau mengaku paling sedih bila melihat organisasi diremehkan dengan cara itu. Padahal bukan saja yang hadir mendapat ilmu; yang bertahan berkumpul pun sedang merawat tali yang mengikat banyak lidi.
Dengan hangat beliau menuturkan pengalamannya di Semarang: antara Rifa’iyah dan saudara-saudara Nahdliyin hubungan berjalan sangat menyatu. Tak ada warga NU yang menganggap Rifa’iyah asing, sebab kitab pegangannya sama, jalurnya sama, sama-sama Ahlussunnah wal Jama’ah.
Dan satu keistimewaan, kata beliau, yang tak dimiliki semua orang: sejak kecil, warga Rifa’iyah sudah akrab dengan najis dan suci, syarat dan pembatal wudu, rukun-rukun salat beserta perinciannya, hingga rukun iman, syarat iman, dan hal-hal yang membatalkannya. “Karena itu,” kata beliau menutup bagian ini, “saya menyebut jenengan wong suargo.”
Surga bukan upah, melainkan rahmat
Namun di titik itulah beliau berbelok pada inti yang mengguncang. Orang yang rajin mengaji sampai mati pun, kata beliau, tidak memiliki surga karena amalnya. Beliau mengingatkan bahwa jemaah tentu hafal hadis riwayat Muslim yang masyhur:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، قَالُوا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ
Amal seseorang di antara kalian tidak akan memasukkannya ke surga. Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Termasuk aku, kecuali bila Allah meliputiku dengan rahmat dari-Nya.” (HR. Muslim)
Lalu apa yang dimaksud rahmat itu? Beliau merujuk penjelasan Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani, pakar hadis, dan menguraikannya dalam empat lensa.
- Taufiq itu sendiri adalah rahmat. Kemampuan beribadah sampai di sini semata taufiq dari Allah, bukan karena bensin, longgarnya waktu, kendaraan, atau kawan. Berapa banyak orang berniat berangkat lalu di jalan tersandung atau urung. Abu Jahal bahkan sangat dekat dengan Rasulullah SAW, dan Abu Lahab adalah paman beliau sendiri. Rasulullah paling sempurna dalam menyampaikan, lembut dan penuh hikmah, namun mereka tak mau beribadah. Yang menumbuhkan niat di hati hanyalah Allah. Maka siapa pun yang diniatkan mengaji, itu sudah tanda ia dikaruniai rahmat.
- Upah seorang pekerja. Ulama memberi perumpamaan pekerja dan majikan. Yang bekerja berhak berharap upah; yang tidak bekerja tapi menuntut upah, adakah yang mau membayar? Orang yang salat, berzakat, berhaji, dan berangkat mengaji ibarat sedang bekerja untuk Tuannya. Allah-lah Majikan itu, dan bayaran-Nya, yakni surga, itulah yang disebut rahmat.
- Janji yang tak diingkari. Allah telah berjanji dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh, وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, akan dimasukkan ke surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Janji itu pasti, dan janji itu sendiri adalah bagian dari rahmat-Nya.
- Hasil tanam dan dagang. Orang menanam padi atau semangka, atau berdagang, selalu berharap panen dan laba. Tetapi yang menumbuhkan adalah Allah. Berapa banyak orang cerdas lidahnya namun dagangannya sepi, dan berapa banyak yang biasa saja tetapi berkah? Keberhasilan bukan karena pandainya kita; ia bagian dari rahmat-Nya.
Dari sinilah beliau menyimpulkan mengapa kedudukan penghuni surga bertingkat-tingkat: karena karunia dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya berbeda-beda sesuai ikhtiar dan ketulusannya. Yang berlelah-lelah menjaga organisasi dan majelis, yang rekasanya lebih besar, tentu berbeda ganjarannya dari yang hanya duduk menonton.
Pesan penutup
Beliau menutup mauidhah dengan ajakan yang bersahaja: dukunglah bersama kegiatan-kegiatan yang sedang berjalan. Niat berjuang, katanya, semata-mata mencari ridha Allah. Hambatan, rintangan, dan cobaan memang sudah menjadi bagian dari perjalanan manusia; lambat laun semuanya selesai sendiri. Yang penting hati tertaut kepada Allah. Semoga bermanfaat, amin, ya Rabbal ‘alamin.
V. Infak, Doa, dan Jalan Pulang
Menjelang akhir, pembawa acara mengumumkan hasil pengumpulan infak jemaah yang berlangsung kurang lebih sepuluh menit: Rp1.816.000. Dari jumlah itu, Rp1.000.000 diinfakkan untuk pembangunan gedung Pimpinan Pusat, dan sisanya untuk kas majelis lapangan. Sebagian harta yang dititipkan Allah kepada kita, begitu semangat pengumumannya, kita serahkan untuk pimpinan pusat dan majelis lapangan.
Sebuah angka sederhana yang menyimpan makna besar. Jemaah yang baru beberapa menit sebelumnya diingatkan tentang tali yang mengikat lidi, malam itu menyaksikan tali itu dikuatkan oleh tangan mereka sendiri. Panitia pun mengingatkan agar persiapan selapanan berikutnya tak terlupa.
Doa penutup dipanjatkan, dan selawat serta salam kepada Rasulullah SAW kembali berkumandang sebagai penutup malam. Para jemaah pulang membawa lebih dari sekadar besek: setidaknya sebuah kesadaran bahwa langkah mereka ke Masjid Al-Mukarromah malam itu bukanlah hasil bensin, kendaraan, dan waktu luang semata, melainkan taufiq yang dititipkan Allah kepada mereka.
Epilog: Yang Dibawa Pulang
Selapan lagi, tiga puluh lima hari dari sekarang, malam Selasa Pon akan berputar kembali, dan tali itu akan diikat lagi di tempat yang lain. Malam di Kramatsari ini meninggalkan lima bekal yang layak dibawa pulang oleh siapa saja yang membacanya.
- Timbanglah orang dengan yang tampak, timbanglah diri dengan yang tersembunyi. Terhadap sesama kita berhukum pada zahir dan menyerahkan batin kepada Allah; terhadap diri sendiri kita wajib bersungguh-sungguh benar di dalam dan di luar.
- Tobat adalah jalan pulang yang selalu terbuka. Yang paling berbahaya bukan tergelincir, melainkan menganggap maksiat sebagai hal biasa sampai hati tak lagi merasa bersalah.
- Langkah menuju majelis ilmu adalah taufiq. Ia hadiah yang mendahului amal, patut disyukuri dan bukan dibanggakan.
- Surga adalah rahmat. Amal adalah jalan kita menyambutnya, bukan harga yang kita bayarkan; maka tak ada tempat bagi sombong, dan selalu ada tempat bagi harap.
- Kebaikan butuh tali. Sebatang lidi mudah patah, seikat lidi kokoh menyapu; berjemaah dan berorganisasi adalah cara menjaga kebenaran agar tak kalah oleh kebatilan yang rapi.
Dan barangkali satu bekal lagi, yang diam-diam dititipkan sang ketua panitia pada malam itu: bergeserlah dari golongan pertama menuju golongan ketiga. Dari sekadar datang karena daripada menganggur, menuju tahu ilmunya dan sanggup mengamalkannya.
Catatan Penyusun
- Reportase ini disusun dari poster acara dan transkrip otomatis rekaman siaran yang berdurasi hampir empat jam. Transkrip otomatis banyak salah dengar pada bagian bahasa Jawa dan Arab, sehingga nama, angka, dan kutipan sebaiknya diverifikasi sebelum diterbitkan.
- Ejaan nama yang perlu dikonfirmasi: nama ketua panitia/pimpinan Ranting Kramatsari, KH. Abdul Basit Al-Hafizh, H. Al-Mufid, KH. Wahyono, KH. Amrudin Nasihun, pengasuh dan sesepuh yang disebut pembawa acara, petugas doa penutup, serta judul kitab Husnul Mitholab dan nama Syekh Ibrahim al-Laqqani.
- Teks Arab ditulis dengan harakat berdasarkan redaksi baku yang dikenal, dan sebaiknya dimuraja’ah ke kitab induk. Ungkapan umirtu an ahkuma bizh-zhawahir dan al-haqqu bila nizham dimuat sebagaimana disampaikan penceramah; riwayat-riwayat fadilah majelis ilmu yang dikutip secara lisan (memandang ulama, perbandingan dengan memerdekakan seribu budak, dan seterusnya) sengaja ditulis sebagai kutipan penceramah, bukan sebagai teks hadis, karena belum ditakhrij.
- Rincian infak diambil dari transkrip: total Rp1.816.000 dan Rp1.000.000 untuk gedung Pimpinan Pusat; peruntukan sisanya bagi kas majelis lapangan adalah penafsiran penulis dan perlu dikonfirmasi bendahara panitia.
- Perhitungan: 404 putaran dengan jarak 35 hari berarti lebih dari 38 tahun. Tanggal 13 Oktober 2026 jatuh pada Selasa Pon, sehingga acara pada Senin malam, 12 Oktober, adalah malam Selasa Pon.
Penulis: Ahmad Saifullah
Editor: Yusril Mahendra

