BALI, Rifaiyah.or.id – Pengurus Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) menggelar silaturahim warga Rifa’iyah Provinsi Bali sekaligus Musyawarah Wilayah (MUSYWIL) pada Ahad, 11 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ajang mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat keberadaan organisasi Rifa’iyah di Pulau Dewata.
Acara tersebut dihadiri sekitar 15 peserta yang merupakan warga Rifa’iyah dari berbagai wilayah di Bali. Dalam musyawarah itu, Samsuri terpilih sebagai Ketua Pengurus Wilayah (PW) Rifa’iyah Provinsi Bali, sedangkan Ahmad Saerozi terpilih sebagai Ketua PW AMRI Provinsi Bali.
Perkuat Persaudaraan Warga Rifa’iyah di Bali
Silaturahim ini mempertemukan warga Rifa’iyah yang selama ini tinggal dan beraktivitas di sejumlah wilayah di Provinsi Bali. Berdasarkan data yang telah dihimpun, terdapat sekitar 25 warga Rifa’iyah yang tersebar di Denpasar Selatan, Ubung, Karangasem, dan Kuta.
Namun, karena kesibukan pekerjaan masing-masing, warga yang dapat menghadiri kegiatan tersebut baru sekitar 15 orang.
Warga Rifa’iyah di Bali berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa, di antaranya Kebontaman Semarang, Pekalongan, Bantaran Kendal, Pati, dan Demak. Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal, mempererat hubungan kekeluargaan, serta membangun komunikasi yang lebih erat di antara sesama warga Rifa’iyah.
Gus Ketum Ajak Warga Rifa’iyah Terus Berjuang Bersama
Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq Syafi’i, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga semangat perjuangan dan memperluas jalinan persaudaraan warga Rifa’iyah, baik di dalam maupun di luar negeri.
Ia menyampaikan pesan, “Bahwa berjuang untuk Rifa’iyah blas ora bahaya…!”
Ia juga menegaskan bahwa upaya mempertemukan warga Rifa’iyah akan terus dilakukan hingga menjangkau berbagai pelosok Nusantara, bahkan mancanegara.
“Kita akan terus mempertemukan sedulur Rifa’iyah di seluruh pelosok Nusantara bahkan sampai ke mancanegara, kita pertemukan, kita persaudarakan kemudian kita ajak berjuang bersama..!” ujarnya.
Pesan tersebut menekankan bahwa silaturahim bukan sekadar pertemuan antarsesama warga, melainkan juga langkah untuk membangun persaudaraan dan menguatkan semangat berjuang bersama dalam mengembangkan dakwah Rifa’iyah.
Ahmad Saerozi Siap Melestarikan Pengajian Kitab Tarajumah
Ahmad Saerozi, yang terpilih sebagai Ketua PW AMRI Provinsi Bali, turut menyampaikan komitmennya dalam sambutan. Ia dikenal sebagai pengusaha sukses Rifa’iyah di wilayah Denpasar Selatan dan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan.
Selain itu, Ahmad Saerozi juga aktif mendirikan yayasan pendidikan Islam di Provinsi Bali. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari kiprahnya dalam mendukung kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam di daerah tempat tinggalnya.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan kesiapan untuk menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan Rifa’iyah, khususnya pengajian kitab Tarajumah.
“Insyaallah kami siap melestarikan ngaji kitab Tarajumah di Bali,” ungkapnya.
Komitmen tersebut menjadi salah satu perhatian penting dalam pengembangan Rifa’iyah di Bali, terutama dalam menjaga kesinambungan pengajaran kitab Tarajumah bagi warga Rifa’iyah yang tinggal jauh dari daerah asal mereka di Pulau Jawa.
Baca Juga: PP AMRI Dampingi Digitalisasi 60 Manuskrip Tarajumah di Demak
Penyerahan Lima Kitab Ri’ayatal Himmah

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan pula penyerahan cendera mata berupa lima kitab Ri’ayatal Himmah. Penyerahan ini menjadi bagian dari kegiatan silaturahim yang mempertemukan warga Rifa’iyah sekaligus menguatkan perhatian terhadap tradisi keilmuan yang diwariskan dalam lingkungan Rifa’iyah.
Melalui pertemuan ini, warga Rifa’iyah di Bali diharapkan semakin terhubung satu sama lain dan memiliki ruang yang lebih luas untuk menjalankan kegiatan keagamaan bersama.
Menguatkan Langkah Rifa’iyah di Pulau Dewata
Terpilihnya Samsuri sebagai Ketua PW Rifa’iyah Provinsi Bali dan Ahmad Saerozi sebagai Ketua PW AMRI Provinsi Bali menjadi bagian penting dari hasil MUSYWIL tersebut. Keduanya diharapkan dapat menjalankan amanah organisasi serta memperkuat hubungan di antara warga Rifa’iyah yang tersebar di berbagai wilayah di Bali.
Dengan jumlah warga yang telah teridentifikasi sekitar 25 orang, silaturahim ini menjadi langkah untuk mempererat persaudaraan sekaligus membuka ruang bagi pengembangan kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam.
Semangat mempertemukan warga, melestarikan pengajian kitab Tarajumah, dan mengajak sesama warga untuk berjuang bersama menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut. Harapannya, keberadaan Rifa’iyah di Bali dapat terus terjaga dan berkembang melalui kebersamaan serta kiprah warga di tengah Masyarakat yang beraneka ragam.
Penulis: Yusril Mahendra
Editor: Yusril Mahendra



